Ntvnews.id, Taheran - Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Teheran telah membebaskan seorang warga AS bernama Dena Karari. Pemerintah Iran menegaskan perempuan berkewarganegaraan ganda itu merupakan mata-mata dan tidak pernah dibebaskan dari tahanan.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui media pemerintah dan dikutip Anadolu Agency, Rabu, 16 Juli 2026, otoritas kehakiman Iran menepis klaim tersebut.
"Tidak ada mata-mata Amerika yang dibebaskan dari penjara," kata pihak kehakiman Iran, sebagaiman dikutip dari AFP, Jumat, 17 Juli 2026.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Iran telah membebaskan seorang warga Amerika yang menurutnya ditahan secara tidak sah sejak Desember 2024. Meski tidak menyebut nama, ia mengungkapkan bahwa orang tersebut adalah seorang perempuan.
"Iran telah mengizinkan warga negara Amerika, yang ditahan secara tidak sah pada Desember 2024 di bawah kepresidenan Joe Biden yang lamban, untuk meninggalkan negara itu," tulis Trump melalui akun Truth Social pada Rabu, 15 Juli 2026.
Baca Juga: Indonesia dan Iran Perkuat Kolaborasi Vokasi, Jaminan Sosial, hingga Kesempatan Kerja Disabilitas
Trump kemudian menambahkan, "Ia sekarang berada di luar Iran dengan selamat, dan dalam kondisi baik. Amerika Serikat menghargai isyarat niat baik ini dari Iran!"
Pengacara Jared Genser selanjutnya mengonfirmasi bahwa perempuan yang dimaksud adalah Dena Karari, kliennya yang disebut terjebak di Iran akibat "tuduhan palsu." Menurut Genser, Karari kini telah berada dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat setelah dibebaskan berkat "upaya luar biasa dan tanpa henti" dari Trump, sebagaimana dikutip AFP.
Dalam keterangan terpisah, Genser menjelaskan Karari merupakan warga negara ganda AS-Iran yang mengelola organisasi nirlaba Children of Mehr Foundation.
Melalui akun media sosialnya, yayasan tersebut memperkenalkan diri sebagai organisasi nonpemerintah yang berfokus pada pemberdayaan anak-anak melalui pendidikan, kreativitas, dan perluasan kesempatan.
Arsip - Asap membubung dari bagian tenggara kota menyusul terjadinya ledakan baru di lokasi yang menjadi sasaran serangan AS dan Israel di Teheran, Iran, pada 8 Maret 2026. (Antara)
Genser mengatakan Karari ditangkap ketika sedang mengunjungi keluarganya di Iran dan kemudian diperiksa oleh Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran. Selama penahanan, ia disebut mengalami tekanan fisik maupun psikologis yang berat.
Isu mengenai pembebasan Karari mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran setelah serangkaian serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pihak menilai operasi militer tersebut merupakan bagian dari tekanan agar Iran bersedia memenuhi tuntutan dalam proses perundingan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab serta menegaskan bahwa mereka belum memiliki keinginan untuk kembali ke meja perundingan.
Ilustrasi - Miniatur bendera Amerika Serikat dan Iran. (Antara)