Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi terhadap jaringan yang diduga menjadi sumber pendanaan elite Iran dengan menargetkan bankir dan pengusaha Ali Ansari beserta 13 individu dan entitas lainnya. Mereka dituduh memiliki keterkaitan dengan Mojtaba Khamenei, putra sekaligus tokoh berpengaruh di lingkaran Pemimpin Tertinggi Iran.
Dilansir AFP, Sabtu, 11 Juli 2026, Pengumuman sanksi tersebut disampaikan di tengah meredanya ketegangan setelah konflik selama sepekan yang dipicu serangan Iran terhadap tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Arab Saudi. Serangan itu mendorong Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk.
Mengutip Reuters, Ali Ansari merupakan bankir dan pengusaha Iran yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Sebelumnya, ia juga telah dikenai sanksi oleh Inggris karena diduga memberikan dukungan finansial kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pemerintah AS menuduh Ansari mengalihkan kekayaan yang berasal dari dana publik ke berbagai aset properti dan bisnis di luar negeri untuk memperkaya diri sendiri, kalangan elite pemerintahan Iran, serta IRGC.
Departemen Keuangan AS menyebut Ansari pernah menjadi pemilik sekaligus direktur Bank Ayandeh, lembaga keuangan yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Washington. Bank tersebut kemudian dinyatakan bangkrut dan ditutup atas perintah pemerintah Iran pada pertengahan Oktober 2025.
Baca Juga: Polisi Periksa Tan Kian Sebagai Salah Satu Saksi Usai Geledah 12 Lokasi
Menurut Departemen Keuangan AS, Ansari memanfaatkan sejumlah perusahaan cangkang dan rekening bank di berbagai negara untuk mengelola aset bernilai jutaan dolar melalui perusahaan induk Smart Global Limited yang berbasis di Saint Kitts dan Nevis dan didirikan pada 2011.
"Meskipun atas nama Ansari, banyak dari kepentingan keuangan ini pada akhirnya dipegang untuk keuntungan finansial Mojtaba Khamenei, keluarganya, dan elite Iran lainnya dalam rezim, dan IRGC yang telah melindungi Ansari dari hukuman meskipun korupsinya yang terang-terangan dan kerusakan signifikan yang telah ia timbulkan pada ekonomi dan rakyat Iran," tulis pernyataan Departemen Keuangan AS.
Selain Ansari, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan penukaran mata uang di Iran beserta sejumlah perusahaan luar negeri yang disebut berfungsi sebagai perusahaan cangkang. Perusahaan-perusahaan tersebut diduga memfasilitasi perpindahan dana miliaran dolar AS setiap tahun untuk bank-bank Iran yang telah dikenai sanksi.
"Amerika Serikat mengambil tindakan tegas untuk memutus jalur keuangan yang menopang elit penguasa Iran," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
OFAC juga memasukkan sejumlah warga negara Iran yang diduga terlibat dalam operasional tiga perusahaan penukaran mata uang tersebut ke dalam daftar sanksi. Selain itu, dua perusahaan asing, yakni CDM Trading Limited yang berbasis di Hong Kong serta Naba Alzaki Raw Materials Trading LLC di Uni Emirat Arab, turut menjadi sasaran.
Pemerintah AS menilai langkah tersebut bertujuan mengganggu kemampuan pemerintah Iran dalam memperoleh mata uang asing serta membatasi akses rezim terhadap sistem keuangan internasional melalui jaringan perusahaan yang diduga digunakan untuk menghindari sanksi.
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)