Ntvnews.id, Jakarta - Selama ini Makkah di Arab Saudi dikenal sebagai salah satu kota dengan suhu udara yang sangat tinggi karena berada di kawasan gurun. Namun, gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa justru memunculkan kondisi yang tak biasa. Paris, yang identik dengan iklim empat musim, sempat mencatat suhu lebih tinggi dibanding Kota Suci tersebut.
Berdasarkan perbandingan yang dirangkum dari Al Jazeera pada Selasa (30/6/2026), suhu maksimum di Paris diperkirakan mencapai 41 derajat Celsius. Sementara itu, suhu di Makkah berada di kisaran 39 derajat Celsius. Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah kota lain di Eropa yang umumnya memiliki iklim jauh lebih sejuk dibanding kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut merupakan dampak dari gelombang panas ekstrem yang menyelimuti sebagian besar wilayah Eropa Barat. Prancis, Spanyol, Italia, Inggris, hingga Jerman sama-sama mengalami lonjakan suhu yang memecahkan rekor sepanjang Juni tahun ini.
Di sejumlah wilayah, temperatur bahkan menembus angka lebih dari 40 derajat Celsius. Cuaca ekstrem tersebut memicu berbagai dampak, mulai dari peringatan kesehatan, gangguan transportasi, hingga kebakaran hutan.
Lantas, mengapa Paris bisa lebih panas daripada Makkah?
Salah satu penyebab utamanya adalah fenomena heat dome atau kubah panas. Sistem tekanan udara tinggi ini bekerja layaknya penutup raksasa yang memerangkap udara panas di dekat permukaan Bumi. Akibatnya, panas tidak mudah keluar sehingga suhu terus meningkat dan bertahan selama beberapa hari.
Selain kubah panas, Paris juga mengalami fenomena urban heat island atau efek pulau panas perkotaan. Bangunan beton, jalan beraspal, serta minimnya ruang terbuka hijau membuat panas Matahari terserap pada siang hari, kemudian dilepaskan kembali saat malam.
Akibat kondisi tersebut, suhu udara di kawasan perkotaan tetap tinggi bahkan ketika Matahari telah terbenam. Situasi inilah yang membuat panas di kota-kota besar terasa jauh lebih menyengat dibanding wilayah di sekitarnya.
Di sisi lain, Makkah justru telah lama beradaptasi dengan kondisi cuaca gurun yang ekstrem. Banyak bangunan di kota tersebut menggunakan material yang dirancang untuk mengurangi penyerapan panas, sementara aktivitas masyarakat juga telah menyesuaikan diri dengan karakter iklim setempat.
Baca Juga: Spanyol utus 44 Tenaga ahli Untuk Bantu korban Gempa Venezuela
Perbedaan lain yang turut memperburuk dampak gelombang panas di Eropa adalah kesiapan infrastrukturnya. Selama ini banyak negara di kawasan tersebut tidak menjadikan pendingin ruangan (AC) sebagai fasilitas standar di rumah maupun bangunan publik karena musim panas sebelumnya masih tergolong dapat ditoleransi.
Ketika suhu melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius, banyak bangunan kesulitan mempertahankan suhu ruangan agar tetap nyaman. Kondisi tersebut membuat dampak cuaca panas terhadap kesehatan masyarakat menjadi jauh lebih besar.
Gelombang panas itu pun mengganggu berbagai aktivitas. Sejumlah sekolah ditutup, layanan kereta mengalami gangguan, jaringan listrik berada di bawah tekanan, sementara rumah sakit menerima lonjakan pasien akibat penyakit yang berkaitan dengan suhu panas. Otoritas di sejumlah negara bahkan mengeluarkan peringatan merah sebagai tingkat kewaspadaan tertinggi.
Menurut para ilmuwan, fenomena panas ekstrem yang melanda Eropa kali ini tidak dapat dipisahkan dari dampak perubahan iklim. Kelompok peneliti World Weather Attribution menyebut suhu ekstrem seperti yang terjadi pada Juni 2026 nyaris mustahil terjadi beberapa dekade lalu tanpa pengaruh pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Eropa sendiri merupakan benua yang mengalami laju pemanasan paling cepat di dunia. Karena itu, kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa mendatang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengingatkan bahwa gelombang panas yang sebelumnya dianggap sebagai peristiwa langka kini mulai berubah menjadi kejadian yang hampir terjadi setiap tahun.
"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun. Kita sebenarnya sudah diperingatkan," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Perbandingan suhu antara Paris dan Makkah menjadi gambaran nyata bahwa perubahan iklim telah mengubah pola cuaca global. Kota-kota di Eropa yang selama ini dikenal beriklim sejuk kini dapat mengalami suhu yang setara, bahkan melampaui wilayah gurun yang selama ini identik dengan panas ekstrem.
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)