Ngeri! WHO Sebut 1.300 Orang Tewas akibat Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jun 2026, 10:00
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian sejak 21 Juni. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa suhu tinggi yang terus berlanjut tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga memberi tekanan besar terhadap sistem kesehatan di berbagai negara.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun lembaganya, korban jiwa akibat cuaca panas ekstrem terus bertambah seiring gelombang panas bergerak ke wilayah timur Eropa.

"Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni akibat suhu tinggi di Eropa," kata Tedros, seperti dikutip dari AFP, Senin (29/6/2026).

Gelombang panas tersebut memaksa puluhan juta penduduk Eropa menghadapi suhu ekstrem sepanjang akhir pekan. Sejumlah negara juga melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa, sementara layanan kesehatan menghadapi tekanan akibat lonjakan pasien yang terdampak cuaca panas.

Menurut Tedros, dampak suhu ekstrem di Eropa diperparah oleh kondisi infrastruktur yang belum dirancang untuk menghadapi gelombang panas berkepanjangan.

"Stres akibat suhu panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap' dan bangunan rumah, tempat kerja, serta sekolah-sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu seperti ini," ujarnya melalui pernyataan di media sosial X.

Baca Juga: Penjualan Global Toyota Turun 7,2 Persen pada Mei, China Jadi Penyebab Utama

Di Prancis, otoritas kesehatan pada Minggu (28/6) pagi melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan di luar angka normal yang tercatat sejak Rabu (24/6) waktu setempat. Negara tersebut juga disebut tengah mengalami salah satu gelombang panas terparah yang pernah terjadi.

Sementara itu, berdasarkan perkiraan AFP, sedikitnya 191 juta penduduk di berbagai negara Eropa diperkirakan mengalami suhu udara minimum mencapai 35 derajat Celsius pada Minggu (28/6). Suhu panas yang sangat ekstrem diproyeksikan melanda Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.

Analisis yang mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Jerman serta proyeksi populasi 2025 dari Joint Research Centre yang dihimpun LSM Austria, Klimadashboard, juga memperkirakan sekitar 381 juta penduduk di Eropa, tidak termasuk Turki, akan terdampak suhu di atas 30 derajat Celsius.

Tedros menegaskan jutaan warga Eropa kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan akibat suhu panas ekstrem yang terus berlangsung.

"Dipicu oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas 'sekali-dalam-satu-generasi' kini muncul hampir setiap tahun. Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di Bumi, dengan laju peningkatan suhu mencapai dua kali lipat dari rata-rata global," sebutnya.

Baca Juga: 42 Pekerja Migran Asal Cianjur Bermasalah di Luar Negeri Gegara Berangkat Ilegal

Ia juga menyoroti dampak yang semakin luas dari gelombang panas terhadap kehidupan masyarakat.

"Jutaan orang di seluruh benua Eropa saat ini hidup di tengah suhu panas ekstrem; ratusan orang meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik kewalahan menghadapi beban berlebih," katanya.

WHO, lanjut Tedros, terus bekerja sama dengan negara-negara anggota beserta para mitranya untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.

"WHO bekerja sama dengan negara-negara anggota dan para mitranya untuk mengatasi ancaman kesehatan akibat suhu panas ekstrem dengan berfokus pada kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons sistem kesehatan yang lebih kuat," ujarnya.

Tedros juga menyerukan pemerintah di berbagai negara Eropa agar segera menerapkan rencana aksi kesehatan khusus untuk menghadapi suhu panas sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat di tengah dampak perubahan iklim.

x|close