Ntvnews.id, New York - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak Juni telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian. Fenomena cuaca ekstrem tersebut dinilai menjadi ancaman kesehatan yang semakin serius dan kini terjadi hampir setiap tahun.
Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa dampak gelombang panas di kawasan Eropa terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran global.
"Lebih dari 1.300 kematian berlebih sudah tercatat sejak 21 Juni terkait dengan suhu tinggi di Eropa," kata Ghebreyesus melalui akun X.
Ia menjelaskan, gelombang panas sering dijuluki sebagai "pembunuh diam-diam" karena dampaknya yang mematikan, sementara banyak infrastruktur di Eropa, termasuk sekolah dan perkantoran, belum dirancang untuk menghadapi suhu yang sangat tinggi.
Akibat cuaca panas ekstrem tersebut, sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar, sementara beberapa jaringan listrik dilaporkan mulai mengalami gangguan hingga kolaps.
Baca Juga: Qodari: 1.151 Km Jalan Daerah Dibangun demi Pastikan Pemerataan Ekonomi
WHO, lanjut Ghebreyesus, bersama negara-negara anggotanya akan memperkuat langkah mitigasi terhadap ancaman kesehatan akibat gelombang panas. Upaya tersebut akan difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan, pencegahan, serta penguatan sistem respons kesehatan.
"Secara khusus, kami mendorong negara-negara Eropa menerapkan rencana aksi kesehatan panas, untuk melindungi kesehatan dari perubahan iklim," kata Ghebreyesus.
Saat ini, sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Polandia tengah menghadapi suhu udara yang sangat tinggi. Di Prancis, beberapa wilayah bahkan mencatat suhu berkisar antara 36 hingga 40 derajat Celsius.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis (Public Health France) melaporkan bahwa gelombang panas yang terjadi di negara tersebut diperkirakan telah menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan hanya dalam sepekan terakhir.
"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka sementara yang belum dikonsolidasikan) sudah tercatat dibandingkan jumlah kematian di bulan-bulan sebelumnya," demikian menurut badan tersebut, dikutip AFP.
Meningkatnya jumlah korban akibat gelombang panas kembali menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Para ahli menilai, tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang lebih kuat, frekuensi serta intensitas gelombang panas diperkirakan akan terus meningkat di berbagai belahan dunia.
Seorang wanita berjalan di bawah sinar matahari saat gelombang panas dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius di Duisburg, Jerman, Rabu, 24 Juni 2026. (Antara)