Ntvnews.id, London - Gelombang panas melanda sejumlah kawasan di Eropa, bertepatan dengan awal musim panas di belahan Bumi utara. Momentum titik balik matahari yang jatuh setiap 21 Juni juga menandai dimulainya periode tiga bulan dengan suhu tertinggi di kawasan tersebut.
Dilansir dari DW, Selasa, 23 Juni 2026, para ahli meteorologi menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat pergerakan massa udara panas dari Gurun Sahara yang bergerak ke arah utara. Kondisi tersebut diperparah oleh keberadaan sistem tekanan tinggi bernama Antisiklon Afrika.
Sistem itu membentuk fenomena yang dikenal sebagai kubah panas (heat dome), yang menjebak udara panas di wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah sehingga suhu terus meningkat.
Ini menjadi gelombang panas kedua yang melanda Eropa pada tahun ini, setelah sebelumnya pada bulan lalu wilayah tersebut juga mengalami lonjakan suhu tidak normal.
Gelombang panas di Eropa dikenal sebagai fenomena berbahaya yang dapat menyebabkan korban jiwa. Dalam empat tahun terakhir, Kantor Regional WHO Eropa mencatat lebih dari 200.000 kematian akibat suhu ekstrem.
Otoritas Prancis menetapkan status siaga merah di sekitar 35 wilayah administratif karena cuaca ekstrem yang terjadi.
Suhu tinggi ini berdampak signifikan pada sistem transportasi kereta api, termasuk potensi kerusakan kabel listrik udara serta pemuaian rel akibat panas ekstrem.
Baca Juga: Serem! Fenomena Gelombang Panas Tewaskan 16 Orang
Operator kereta nasional Prancis (SNCF) membatalkan 71 perjalanan kereta antarkota pada Minggu hingga Senin di sejumlah rute utama. Sebanyak 3.500 petugas dikerahkan untuk memantau kondisi jalur rel, sementara 2.000 personel lainnya disiagakan untuk penanganan darurat.
Pemerintah Prancis juga mengimbau kelompok rentan agar menunda perjalanan selama kondisi cuaca ekstrem berlangsung.
Meski demikian, festival musik jalanan tahunan Fete de la Musique tetap digelar. Namun, pemerintah melarang konsumsi alkohol di ruang publik di wilayah dengan status peringatan tertinggi. Museum Louvre di Paris juga membatalkan konser gratis yang telah dijadwalkan.
Jerman, Italia, dan Spanyol Ikut Terdampak
Di Jerman, badan meteorologi memperkirakan suhu mencapai 37 derajat Celsius pada awal pekan, bahkan meningkat hingga 39 derajat Celsius pada pertengahan pekan.
Selain panas ekstrem, meteorolog juga memperingatkan potensi hujan lebat dan badai petir dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, badai kuat telah mengganggu sejumlah festival di wilayah barat Jerman.
Anak-anak mendinginkan diri di dalam air selama gelombang panas di Haarlem, Belanda, 2 Juli 2025. (Xinhua/Sylvia Lederer) (Antara)
Turnamen tenis Berlin Open juga terdampak setelah hujan deras dan angin kencang memaksa panitia mengevakuasi area pertandingan. Laga final tunggal putri antara Jessica Pegula dan Linda Noskova pun harus ditunda.
Asosiasi Penyelamat Jiwa Jerman (DLRG) turut mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan risiko berenang di sungai dan danau saat suhu tinggi. Peringatan itu disampaikan setelah lima orang dilaporkan meninggal atau hilang saat berenang di wilayah Franconia, Hesse, dan North Rhine-Westphalia.
Di Italia, suhu di atas 35 derajat Celsius telah berlangsung beberapa hari. Pemerintah setempat menetapkan status siaga merah di delapan kota besar, termasuk Bologna, Florence, Milan, dan Turin.
Sementara itu di Spanyol, badan meteorologi AEMET mengeluarkan peringatan merah dan oranye di sejumlah wilayah. Suhu diperkirakan mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius di sebagian besar Semenanjung Iberia dan Mallorca.
Otoritas Spanyol memperkirakan gelombang panas akan bertahan hingga pertengahan pekan. Di Madrid, acara nonton bareng pertandingan Piala Dunia tim nasional Spanyol melawan Arab Saudi juga dibatalkan akibat cuaca ekstrem.
Gelombang Panas Yunani (Istimewa)