Studi: Kematian Akibat Gelombang Panas di Australia Tahun 2100 Bisa Tembus 6.000 Jiwa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Mei 2026, 08:23
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Peringatan Keras dari Perubahan Iklim: Angka Kematian Akibat Panas di Australia Bisa Melonjak Drastis! Peringatan Keras dari Perubahan Iklim: Angka Kematian Akibat Panas di Australia Bisa Melonjak Drastis! (Antara)

Ntvnews.id, Melbourne - Angka kematian tahunan akibat gelombang panas di Australia diperkirakan dapat meningkat hingga hampir 6.000 jiwa pada tahun 2100 akibat dampak perubahan iklim.

Jumlah tersebut melonjak drastis dibandingkan rata-rata sekitar 250 kematian per tahun pada periode 2016–2019, berdasarkan hasil studi yang dirilis pada Rabu, 06 Mei 2026.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah terpanas di Australia diproyeksikan mengalami peningkatan kematian yang sangat signifikan akibat suhu ekstrem.

Salah satunya adalah kawasan Thamarrurr di Northern Territory (NT) yang diperkirakan mengalami kenaikan hingga 4.412 persen.

Baca Juga: Infografik: Waspada Cuaca Panas, Jamaah Haji Diminta Jaga Kesehatan di Tanah Suci

Sementara itu, wilayah dengan dampak panas terendah seperti West Coast di Australia Selatan tetap diperkirakan mengalami peningkatan signifikan, yakni sebesar 356 persen.

Temuan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi dari Universitas Monash.

Studi yang diterbitkan dalam The Lancet Planetary Health itu memperkirakan bahwa pada dekade 2090-an, rata-rata angka kematian berlebih tahunan akibat panas ekstrem akan mencapai 33,9 kematian per 100.000 penduduk di Northern Territory.

Angka tersebut diikuti oleh 18,4 kematian di Negara Bagian Queensland dan 12,8 kematian di Negara Bagian New South Wales.

"Proyeksi-proyeksi ini menegaskan kebutuhan mendesak akan strategi mitigasi terpadu dan adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal guna mengatasi ketimpangan kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim," kata Li Shanshan selaku peneliti utama studi tersebut.

Baca Juga: Cianjur Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana hingga Antisipasi Cuaca Ekstrem

Para peneliti menjelaskan bahwa gelombang panas atau periode suhu ekstrem berkepanjangan berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit dan kematian akibat gangguan kardiovaskular, pernapasan, ginjal, hingga berbagai kondisi kesehatan lain yang dipicu panas.

Tim peneliti yang menganalisis data iklim dari lebih dari 2.200 komunitas di Australia itu juga menilai dampak paling besar akan dirasakan kelompok rentan, termasuk komunitas adat, masyarakat pedesaan, serta warga berpenghasilan rendah yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendingin udara dan layanan kesehatan.

Mereka memperingatkan bahwa tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang terkoordinasi, perubahan iklim akan semakin memperparah dampak kesehatan akibat panas ekstrem dan meningkatkan tekanan terhadap sistem kesehatan masyarakat di masa depan.

(Sumber: Antara)

x|close