Ntvnews.id, Paris - Tragedi memilukan terjadi di wilayah Paris, Prancis, ketika seorang anak laki-laki berusia tiga tahun ditemukan meninggal dunia di dalam mobil di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut. Peristiwa ini menjadi kasus ketiga kematian anak akibat terjebak di dalam kendaraan dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan keterangan sumber kepolisian Paris, bocah tersebut ditemukan oleh kedua orang tuanya di dalam sebuah mobil yang terparkir di luar rumah mereka. Tim pertahanan sipil kemudian mengonfirmasi kematian korban yang terjadi di Saint-Gratien, kawasan pinggiran ibu kota Paris.
Dilansir dari AFP, Jumat, 26 Juni 2026, insiden tersebut terjadi saat Prancis mengalami cuaca panas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada Rabu, 24 Juni 2026, negara itu mencatat hari terpanas sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1947.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire mengungkapkan bahwa angka kematian di ibu kota mengalami peningkatan akibat gelombang panas, meski tidak merinci jumlah korban secara pasti.
Pada hari yang sama, suhu udara di Paris mencapai 40,3 derajat Celsius, menjadikannya suhu tertinggi yang pernah tercatat dalam kurun waktu sekitar 150 tahun terakhir.
Baca Juga: Italia Tetapkan Status Darurat Gelombang Panas di 16 Kota
Kasus serupa juga terjadi di wilayah selatan Prancis awal pekan ini. Dua anak berusia dua dan empat tahun ditemukan meninggal dunia di dalam mobil keluarga mereka yang terparkir di kawasan permukiman di Kota Carpentras.
Tidak hanya menyebabkan korban di dalam kendaraan, cuaca panas ekstrem juga memicu berbagai insiden lain. Dalam beberapa hari terakhir, puluhan orang dilaporkan meninggal karena tenggelam saat berupaya mencari cara untuk mendinginkan tubuh dari suhu udara yang sangat tinggi.
Usai rapat kabinet krisis pada Selasa pagi, Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyampaikan bahwa sekitar 40 kematian telah tercatat sejak Kamis pekan lalu.
Sementara itu, Menteri Olahraga Marina Ferrari mengungkapkan bahwa banyak korban tenggelam terjadi selama akhir pekan.
"Ada sekitar 20 kematian sejak akhir pekan lalu," ujar Ferrari kepada radio France Inter pada hari Selasa, dilansir DW. "Berenang di area yang tidak diizinkan saat gelombang panas melanda bukanlah hal yang bisa dianggap sepele," ujarnya.
Ilustrasi suhu panas (pixabay/ geralt) (Pixabay )
Gelombang panas tidak hanya melanda Prancis. Sejumlah negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Inggris, Jerman, dan Italia juga menghadapi suhu ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Para ahli menilai fenomena tersebut dipicu oleh pola atmosfer dan sirkulasi udara yang menyebabkan panas terjebak dalam waktu lama. Kondisi itu semakin diperparah oleh dampak pemanasan global yang meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
Sebagai respons, berbagai negara Eropa telah menerapkan langkah-langkah darurat, mulai dari penutupan sekolah, peningkatan layanan kesehatan, hingga memperketat kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan yang meningkat akibat suhu tinggi.
Ilustrasi mayat (freepik/ kjpargeter)