Korban Tewas Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 300 Jiwa, Kasus Terus Bertambah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Jun 2026, 17:15
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Tenaga medis mengenakan pakaian pelindung saat menangani wabah virus ebola di Republik Demokratik Kongo Ilustrasi - Tenaga medis mengenakan pakaian pelindung saat menangani wabah virus ebola di Republik Demokratik Kongo (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Jumlah korban meninggal dunia akibat wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo terus bertambah. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Media RD Kongo, total kematian kini mencapai 304 orang dari 1.155 kasus yang telah terkonfirmasi.

"Epidemi masih aktif di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan ... dengan 1.155 kasus terkonfirmasi dan 304 kematian," demikian pernyataan kementerian yang dirilis pada Kamis, 25 Juni 2026.

Pemerintah juga melaporkan bahwa tingkat kematian kasus (case fatality rate) meningkat satu poin persentase dibandingkan laporan sebelumnya menjadi 26,3 persen. Kondisi tersebut menunjukkan wabah masih terus berkembang di sejumlah wilayah terdampak.

Baca Juga: WHO: Kasus Ebola di Kongo Tembus 1.000 dalam Sebulan, 267 Orang Meninggal

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei 2026 menetapkan wabah Ebola yang terjadi di RD Kongo dan Uganda sebagai keadaan darurat yang berpotensi mengancam negara lain. WHO menilai risiko penyebaran penyakit ke wilayah lain di kawasan Afrika masih tergolong tinggi.

Sebelumnya, pada Selasa, 23 Juni 2026, WHO menyebut wabah Ebola di RD Kongo telah mencatat jumlah kasus terkonfirmasi terbesar dalam sejarah untuk bulan pertama sejak wabah dimulai. Pada hari yang sama, pemerintah RD Kongo melaporkan terdapat 267 korban meninggal dengan 1.048 kasus terkonfirmasi, sementara tingkat fatalitas telah melampaui 25 persen.

"Wabah ini terus meluas ... Ini menjadi jumlah kasus terkonfirmasi terbesar dalam bulan pertama wabah Ebola di Afrika," kata Direktur di Departemen Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, di Jenewa.

(Sumber: Antara)

x|close