Ntvnews.id, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah Ebola yang sedang berlangsung di Republik Demokratik (RD) Kongo menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Peningkatan jumlah kasus, perluasan wilayah penyebaran, serta munculnya kasus lintas batas ke Uganda menjadi indikator bahwa situasi epidemiologis semakin serius.
Dalam pembaruan yang dirilis pada Senin, 8 Juni 2026, WHO menilai tingkat risiko wabah saat ini berada pada kategori sangat tinggi di RD Kongo. Sementara itu, risiko penyebaran di Uganda dan negara-negara yang berbatasan langsung dengan wilayah terdampak dikategorikan tinggi. Adapun risiko untuk kawasan Afrika lainnya maupun tingkat global masih dinilai rendah.
Data terbaru hingga 7 Juni menunjukkan RD Kongo telah mencatat 515 kasus terkonfirmasi Ebola dengan jumlah korban meninggal mencapai 91 orang. Di Uganda, otoritas kesehatan melaporkan 19 kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian dan satu kematian yang diduga kuat berkaitan dengan infeksi Ebola. WHO menyebut seluruh kasus yang ditemukan di Uganda memiliki hubungan epidemiologis dengan wabah yang terjadi di RD Kongo, baik melalui kasus impor maupun penularan lanjutan kepada kontak erat dan tenaga kesehatan.
Baca Juga: China Kirim Bantuan Medis Darurat ke Kongo untuk Atasi Wabah Ebola
Untuk menekan laju penyebaran penyakit, pemerintah negara-negara terdampak bersama WHO dan berbagai mitra internasional terus memperkuat langkah tanggap darurat. Pada 5 Juni 2026, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) bersama WHO meluncurkan rencana kesiapsiagaan dan respons Ebola tingkat benua. Program tersebut membutuhkan pendanaan sekitar 518 juta dolar Amerika Serikat guna mendukung negara-negara Afrika dalam meningkatkan kapasitas deteksi, pencegahan, serta penanganan wabah.
Wabah kali ini disebabkan oleh penyakit virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD), salah satu jenis Ebola yang dikenal memiliki tingkat keparahan tinggi dan berpotensi menyebabkan kematian. Virus tersebut diyakini berasal dari kelelawar pemakan buah dan dapat menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau sekresi hewan maupun manusia yang terinfeksi.
Baca Juga: Ada 515 Kasus Ebola di Kongo, 91 Orang Meninggal Dunia
WHO menjelaskan bahwa masa inkubasi penyakit ini berkisar antara dua hingga 21 hari. Seseorang yang terinfeksi tidak akan menularkan virus sebelum gejala muncul. Namun setelah gejala berkembang, risiko penularan meningkat secara signifikan, terutama melalui kontak erat dengan penderita atau cairan tubuh yang terkontaminasi.
Dengan meningkatnya jumlah kasus dan adanya penyebaran lintas negara, WHO mengimbau seluruh negara di kawasan untuk memperkuat sistem surveilans kesehatan, meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas medis, serta mempercepat koordinasi lintas batas guna mencegah wabah berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.
(Sumber: Antara)
WHO saat ini menilai risiko wabah tersebut sangat tinggi untuk RD Kongo, tinggi untuk Uganda dan negara-negara tetangga yang berbatasan darat dengan wilayah-wilayah terdampak, serta rendah untuk wilayah Afrika lainnya dan dunia. (ANTARA/Xinhua) (Antara)