WHO Sebut Krisis Kesehatan di Palestina sebagai Tragedi Mengerikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Mei 2026, 17:05
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Jenazah warga Palestina, yang meninggal akibat serangan udara tentara Israel di Kamp Pengungsi Jabalia, dibawa ke Rumah Sakit Shifa untuk dimakamkan di Gaza, Palestina pada Sabtu 9 Mei 2026. (ANTARA/Anadolu/Hamza ZH Qraiqea/pri) Jenazah warga Palestina, yang meninggal akibat serangan udara tentara Israel di Kamp Pengungsi Jabalia, dibawa ke Rumah Sakit Shifa untuk dimakamkan di Gaza, Palestina pada Sabtu 9 Mei 2026. (ANTARA/Anadolu/Hamza ZH Qraiqea/pri) (Antara)

Ntvnews.id, 

Ramallah - World Health Organization (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan kehancuran layanan kesehatan dan kondisi kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai tragedi yang sangat mengerikan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Kamis, 21 Mei 2026, Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Hanan Balkhy menyebut sejak Oktober 2023 lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan sekitar 182.000 lainnya mengalami luka-luka.

"Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan," kata Balkhy.

Ia mengungkapkan bahwa setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil masih terus terjadi. Selain itu, layanan kesehatan tetap terganggu dan akses bantuan kemanusiaan masih sangat terbatas.

Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Global

Menurut WHO, saat ini tidak ada rumah sakit di Gaza yang berfungsi sepenuhnya, bahkan tidak ada satu pun rumah sakit yang masih beroperasi di wilayah Gaza utara.

Selain itu, lebih dari setengah stok obat-obatan penting dilaporkan habis, sementara ribuan pasien masih membutuhkan evakuasi medis secara mendesak.

WHO juga menyoroti penyebaran penyakit menular yang terus meningkat akibat kepadatan penduduk dan memburuknya kondisi sanitasi kesehatan. Kebutuhan layanan kesehatan mental disebut sangat tinggi, sementara risiko terhadap ibu hamil dan bayi baru lahir meningkat tajam.

Di wilayah Tepi Barat, WHO menyatakan situasi terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Krisis finansial yang dialami otoritas Palestina turut memperburuk kondisi tersebut, sehingga rumah sakit umum hanya mampu menyediakan layanan darurat.

WHO bersama para mitra kemanusiaan disebut tetap bekerja di tengah situasi yang sangat sulit. Untuk mendukung layanan kesehatan pada 2025, WHO telah mengajukan pendanaan sebesar 648 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp11,4 triliun, namun hingga kini baru menerima sekitar 75 persen dari kebutuhan tersebut.

Meski menghadapi berbagai tantangan, WHO tetap menyalurkan bantuan dengan mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gaza serta membantu pengiriman bahan bakar guna menjaga sistem kesehatan tetap berjalan.

Baca Juga: Presiden Korsel Ancam Tangkap Netanyahu usai Israel Tahan Relawan Bantuan Gaza

Selain itu, WHO juga terus memperluas layanan perawatan dan pengobatan darurat bagi korban luka.

Balkhy menegaskan bahwa pernyataan politik semata tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan operasi kemanusiaan di wilayah konflik tersebut.

Ia mendesak adanya perlindungan terhadap fasilitas kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan secara berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat masuknya pasokan medis dan tim medis darurat.

Balkhy juga meminta dukungan internasional guna memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan terhadap evakuasi medis, serta membuka kembali jalur rujukan pasien dari wilayah Tepi Barat.

(Sumber: Antara)

x|close