Ntvnews.id, London - Keir Starmer menjadi perhatian publik setelah memutuskan mundur dari jabatan Perdana Menteri Inggris pada Senin, 22 Juni 2026. Pengunduran dirinya terjadi di tengah tekanan politik yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Dengan keputusan tersebut, Starmer tercatat sebagai perdana menteri ketujuh di Inggris yang meninggalkan jabatannya dalam kurun satu dekade terakhir akibat dinamika politik dan ketidakstabilan dukungan di parlemen.
Sebelumnya, Boris Johnson mengundurkan diri pada September 2022. Tak lama berselang, Liz Truss juga melepas jabatannya pada Oktober tahun yang sama. Sementara itu, Rishi Sunak mundur pada 2024 setelah Partai Konservatif mengalami kekalahan dalam pemilihan umum.
Selama memimpin pemerintahan, Starmer menghadapi berbagai kritik terkait sejumlah kebijakan yang dinilai kurang populer. Sorotan datang dari berbagai isu, mulai dari perlambatan ekonomi hingga kontroversi yang melibatkan salah satu diplomat Inggris yang ditunjuk pemerintahannya dan dikaitkan dengan dokumen milik Jeffrey Epstein.
Menjadi PM Setelah Kemenangan Besar Partai Buruh
Starmer berhasil menduduki kursi perdana menteri pada 2024 setelah Partai Buruh Inggris meraih kemenangan telak dalam pemilu dengan mengamankan 404 dari total 660 kursi parlemen.
Meski demikian, masa kepemimpinannya tidak lepas dari kritik. Sejumlah anggota partai menilai Starmer telah menggeser arah politik Partai Buruh yang selama ini dikenal berhaluan kiri menjadi lebih moderat atau sentris.
Baca Juga: PM Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Salah satu kebijakan yang memicu perdebatan adalah keputusan Starmer memberhentikan anggota partai yang mengkritik penyelidikan kasus antisemitisme di tubuh Partai Buruh. Anggota tersebut menilai proses investigasi dilakukan secara berlebihan.
Selain itu, Starmer juga menuai penolakan dari sebagian kalangan karena sejumlah agenda yang diusungnya, seperti rencana kenaikan pajak penghasilan, penghapusan biaya kuliah universitas, serta upaya nasionalisasi sebagian layanan publik di Inggris.
Latar Belakang dan Perjalanan Karier
Keir Starmer lahir pada 2 September 1962 dan dibesarkan di Surrey, sebuah kota kecil di Inggris. Ibunya bekerja di National Health Service (NHS), lembaga kesehatan publik milik pemerintah Inggris.
Namun, sang ibu menderita penyakit Still, sejenis gangguan peradangan sendi, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 2015.
Setelah kepergian ibunya, hubungan Starmer dengan ayahnya disebut tidak berjalan harmonis. Tiga tahun kemudian, ayahnya juga meninggal dunia.
Dalam sebuah wawancara, Starmer mengaku menyesali hubungan yang sempat merenggang dengan sang ayah.
"[saya tidak pernah mengatakan ke dia] aku menyayangimu dan aku menghormatimu. Itu satu hal yang saya sesali," kata dia.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)
Starmer merupakan anggota pertama dalam keluarganya yang berhasil menempuh pendidikan hingga tingkat universitas. Pada masa mudanya, ia turut membantu mengelola majalah berhaluan kiri bernama Socialist Alternatives.
Karier profesionalnya kemudian berkembang di bidang hukum. Starmer berprofesi sebagai pengacara sebelum dipercaya memimpin layanan penuntutan umum Inggris atau Crown Prosecution Service pada 2008.
Atas kontribusinya di bidang hukum, ia menerima gelar kebangsawanan pada 2014. Setahun setelahnya, Starmer memulai karier politik yang kemudian membawanya hingga ke jabatan perdana menteri sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 2026 di tengah tekanan politik yang terus menguat.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara pada konferensi pers di London, Inggris, 1 April 2026. Starmer mengatakan bahwa Inggris akan menjadi tuan rumah KTT internasional pekan ini tentang pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. ANTARA/Ha (Antara)