Kesaksian Siswa Saat Penembakan Sekolah Thailand: "Bu, Jangan Telepon Saya"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Agu 2026, 21:56
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Khim, seorang siswi kelas delapan berusia 14 tahun di Sekolah Debsirin Nonthaburi, menunjukkan rekaman yang dia rekam selama evakuasi, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Reuters. (Foto: Chalinee Thirasupa/Reuters) Khim, seorang siswi kelas delapan berusia 14 tahun di Sekolah Debsirin Nonthaburi, menunjukkan rekaman yang dia rekam selama evakuasi, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Reuters. (Foto: Chalinee Thirasupa/Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Suara tembakan awalnya terdengar seperti bunyi dari lokasi konstruksi. Khim, siswa berusia 14 tahun di Sekolah Debsirin Nonthaburi, pinggiran Bangkok, Thailand, bersama teman-teman sekelasnya sempat mengintip dari balkon untuk mencari tahu sumber suara tersebut.

Namun, beberapa ledakan keras berikutnya membuat mereka sadar bila situasinya jauh lebih serius.

Seorang guru kemudian meminta seluruh siswa masuk ke kelas. Setelah memeriksa grup pesan, sang guru memastikan kabar yang paling mereka takutkan, yakni seorang penembak aktif berada di dalam gedung sekolah.

"Saya mendengar beberapa tembakan dan merasa kami tidak akan selamat," kata Khim, yang meminta identitasnya disamarkan dengan nama panggilan, kepada Reuters, Sabtu (8/8/2026).

Para siswa segera memindahkan meja untuk mengganjal pintu, mematikan lampu, lalu berkumpul di dekat jendela. Selama sekitar 40 menit berikutnya, mereka hanya bisa menunggu sambil mendengarkan suara tembakan dari dalam sekolah.

Terduga pelaku, yang juga berusia 14 tahun, akhirnya menewaskan tiga guru dan dua petugas sekolah sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.

Secara keseluruhan, sembilan orang tewas dan 23 lainnya terluka dalam penembakan massal tersebut.

Tragedi ini menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api di negara dengan tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.

Namun, tragedi itu ternyata telah dimulai beberapa jam sebelumnya.

Menurut polisi, terduga pelaku menembak mati kakek dan neneknya di rumah mereka saat subuh. Setelah itu, dia naik bus menuju sekolah yang berjarak sekitar 18 kilometer.

Sesaat sebelum pukul 10.00 waktu setempat, dia tiba di sekolah dan mulai menembak.

"Bu, Jangan Telepon Saya"

Saat suara tembakan terdengar, Khim terjebak di dalam kelas di Gedung 5. Dia kemudian membuka tablet dan mulai memeriksa pesan-pesan yang masuk.

Baca Juga: Penembakan Sekolah Thailand Tewaskan 3 Murid dan 3 Guru, Pelaku Bunuh Diri

Kakaknya mengirim pesan bila dirinya berada di ruang kelas di Gedung 4, gedung yang bersebelahan. Di saat yang sama, ibu mereka menghubungi Khim untuk memperingatkan adanya penembak di sekolah.

Khim tahu menerima telepon justru bisa membahayakan dirinya dan teman-temannya.

"Saya bilang saya tahu, dan saya bilang kepadanya, 'Bu, jangan telepon saya, karena nada deringnya mungkin akan berbunyi'," kata Khim.

Di grup percakapan siswa, foto-foto terduga pelaku mulai beredar. Dia dilaporkan masih berkeliaran di lingkungan sekolah yang memiliki lebih dari 3.000 siswa dan hampir 150 guru berdasarkan data tahun lalu.

Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan yang jauh lebih keras.

"Lalu, saya mendengar suara ledakan yang sangat keras. Rasanya seperti tepat di sebelah telinga saya," ujar Khim.

Saat itu, dia menyadari terduga pelaku berada hanya beberapa pintu dari ruang kelasnya.

"Saya tidak tahu apakah pelaku menembak secara selektif. Saya tidak tahu apakah dia ingin menembak seluruh sekolah."

Tidak lama berselang, guru meminta para siswa mengevakuasi ruang kelas. Polisi mulai mengamankan sebagian area sekolah. Namun, terduga pelaku sudah berpindah ke Gedung 4, tempat kakak Khim masih bersembunyi.

Ibu Minta Putrinya Menghitung Suara Tembakan

Pada Jumat pagi, Kwan, seorang perawat berusia 52 tahun, sedang menjalani shift di sebuah rumah sakit umum ketika menerima telepon panik dari putri sulungnya.

Putrinya, kakak Khim, memberi tahu bahwa terjadi penembakan di sekolah mereka.

Kwan kemudian mengikuti perkembangan situasi melalui percakapan di grup siswa yang diceritakan oleh putrinya. Dia menduga pelaku menggunakan pistol.

Masih melalui sambungan telepon, Kwan meminta putrinya menghitung jumlah tembakan. Dia memperkirakan magasin pistol mungkin hanya mampu menampung sekitar 15 hingga 20 peluru.

"Hitung tembakannya untuk melihat apakah dia sudah kehabisan peluru," kata Kwan kepada putrinya.

Namun, suara tembakan tidak kunjung berhenti.

Polisi mengatakan terduga pelaku telah menggunakan sedikitnya 26 butir peluru. Sebanyak 34 butir peluru lainnya ditemukan dalam kepemilikannya.

"Namun ternyata suara itu terus mendekat dan mendekat, akhirnya mencapai Gedung 4, gedung tempat putri saya berada," kata Kwan kepada Reuters, Sabtu (8/8/2026).

Kwan kemudian menghubungi layanan darurat. Operator memberitahunya bila polisi, termasuk unit khusus, telah tiba di lokasi.

"Saya memberi tahu mereka, 'Saat ini, saya sedang berbicara dengan anak saya melalui speakerphone. Dia berada di lantai dua, membersihkan ruangan satu per satu dari sisi kanan'," ujar Kwan.

Kemudian, tanpa peringatan, sambungan telepon dengan putrinya terputus.

Kwan mulai berdoa sambil menunggu kabar. Beberapa menit kemudian, putrinya kembali menelepon. Dia selamat dan tidak terluka.

"Aku belum pernah menyayanginya sebanyak ini."

Beberapa jam setelah penembakan berakhir, keluarga itu akhirnya berkumpul kembali di rumah mereka di pinggiran Bangkok, tidak jauh dari sekolah.

Bagi Khim, peristiwa tersebut mengubah cara pandangnya terhadap sang kakak.

"Saat bersama, kami selalu bertengkar," kata Khim.

Namun, setelah melewati situasi yang nyaris merenggut nyawa mereka, perasaan itu berubah.

"Tapi melihatnya kali ini, aku belum pernah menyayanginya sebanyak ini sebelumnya."

 

HIGHLIGHT

x|close