Menilik Transformasi Hijau IMIP untuk Masa Depan Berkelanjutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Jun 2026, 04:09
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Program CSR IMIP Pembangunan Sarana Wisata Desa Padabaho telah mencapai puncak ditandai peresmian dan serah terima pengelolaan Desa Wisata Mangrove Padabaho antara perwakilan CSR IMIP dan Pemerintah Desa Padabaho Program CSR IMIP Pembangunan Sarana Wisata Desa Padabaho telah mencapai puncak ditandai peresmian dan serah terima pengelolaan Desa Wisata Mangrove Padabaho antara perwakilan CSR IMIP dan Pemerintah Desa Padabaho (IMIP)

Ntvnews.id, Jakarta - Di jantung industri nikel Indonesia, tepatnya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, denyut pembangunan tidak hanya berputar pada mesin-mesin smelter dan lalu lintas logistik bahan tambang. Di balik megastruktur Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebuah narasi besar sedang dibangun: harmoni berkelanjutan antara industri, masyarakat, dan lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, IMIP tidak hanya tumbuh sebagai salah satu pusat hilirisasi nikel terbesar di dunia, tetapi juga sebagai laboratorium sosial dan lingkungan yang terus bereksperimen mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan hidup masyarakat di sekitarnya.

Di Kecamatan Bahodopi, transformasi itu tampak semakin nyata melalui program-program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyentuh berbagai aspek kehidupan warga.

CSR yang Menyatu dengan Arah Pembangunan Desa

Salah satu langkah penting yang kini disiapkan adalah rencana peningkatan pagu anggaran CSR untuk 12 desa di Bahodopi pada 2027. Head of CSR Department PT IMIP, Tommy Adi Prayogo, menyebut peningkatan ini bukan sekadar penambahan angka, melainkan bentuk penguatan sinergi antara perusahaan dan pemerintah daerah.

“Kami bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Morowali dan berkoordinasi untuk penyelarasan program dengan meningkatkan dana CSR pada tahun 2027 nanti,” kata Tommy.

Pola pendekatan yang dikembangkan IMIP menempatkan desa sebagai pusat perencanaan. Artinya, program CSR tidak lagi bersifat top-down, tetapi berbasis kebutuhan riil masyarakat desa. Pemerintah desa, pemerintah daerah, hingga pendamping desa dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengawasan.

Baca Juga: BGN Buka Opsi CSR BUMN dan Hibah Luar Negeri untuk Dukung Dapur MBG di Wilayah 3T

“Program-program yang dibiayai nantinya mengacu pada usulan dan perencanaan pembangunan dari masing-masing desa,” ujarnya.

Dalam praktiknya, CSR IMIP telah menjangkau berbagai sektor: pendidikan, infrastruktur jalan dan jembatan, penyediaan air bersih, layanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Bahkan, pelestarian budaya lokal turut menjadi bagian dari agenda sosial perusahaan.

Ketika CSR Menjadi Investasi Perlindungan Nilai

Transformasi pendekatan CSR IMIP juga mendapat pengakuan nasional. Pada Nusantara CSR Awards (NCSRA) ke-17 tahun 2026, IMIP meraih sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk platinum alignment dan CEPI platinum performance untuk program kesehatan masyarakat di Bahodopi, serta program pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis ecoprint di Desa Lele.

Penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi, tetapi juga pengakuan atas pendekatan baru CSR berbasis risiko dan nilai ekonomi perusahaan melalui Corporate Economic Protection Index (CEPI).

“Dengan demikian, CSR tidak lagi berdiri di pinggiran strategi bisnis, melainkan menjadi bagian dari struktur perlindungan perusahaan itu sendiri,” kata Tommy.

Paradigma ini menandai perubahan besar: CSR bukan lagi biaya, melainkan investasi jangka panjang yang menjaga stabilitas operasional dan keberlanjutan perusahaan.

Dari Kain Ecoprint hingga Kemandirian Ekonomi Perempuan

Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah <b>(PT IMIP)</b> Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (PT IMIP)

Di tingkat akar rumput, dampak CSR IMIP terasa lebih personal. Di Desa Bahomakmur, sekelompok perempuan membangun harapan melalui Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera. Dengan memanfaatkan daun-daun lokal seperti mahoni, jati, hingga kenikir, mereka mengubah bahan alam menjadi karya seni bernilai ekonomi.

Dipimpin oleh Wa Ode Amanah, atau Rina, kelompok ini telah berkembang dari pelatihan sederhana menjadi unit usaha kreatif yang menghasilkan berbagai produk: kain, pashmina, tas, hingga aksesori rumah tangga.

“Kami memanfaatkan dedaunan alami sebagai sumber warna dan motif,” ujarnya.

Produk mereka kini bahkan telah menembus pasar internal IMIP sebagai cendera mata. Namun, ambisi mereka tidak berhenti di situ. Mereka berharap dapat memperluas kerja sama dengan perusahaan dan menjadikan produk lokal sebagai bagian dari identitas kawasan industri.

Mangrove Padabaho: Antara Wisata, Edukasi, dan Ekologi

Tidak jauh dari kawasan industri, lanskap hijau lain mulai tumbuh di Bahodopi. Desa Wisata Mangrove Padabaho kini dikembangkan sebagai destinasi berbasis lingkungan melalui dukungan CSR IMIP.

Kawasan ini tidak hanya ditujukan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga ruang edukasi tentang pentingnya ekosistem pesisir. Mangrove berfungsi sebagai pelindung abrasi sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati laut.

Dukungan ini mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Menurut Dinas Pariwisata Morowali, pengembangan desa wisata ini menjadi bagian penting dari strategi ekonomi berbasis komunitas.

“Dana CSR dapat menjadi pemicu berkembangnya usaha mikro dan membuka ruang partisipasi warga,” kata salah satu pejabat daerah.

Bagi warga Padabaho, perubahan ini terasa nyata. Ruang yang dahulu belum termanfaatkan kini menjadi tempat berkumpul, belajar, sekaligus berekreasi.

Roadmap Hijau Menuju 2030

Di level yang lebih luas, IMIP juga menapaki jalur transisi energi melalui Roadmap CSR–Environmental IMIP 2030. Kerangka ini menjadi panduan utama pengurangan emisi karbon di seluruh tenant kawasan industri.

“Roadmap CSR–Environmental IMIP 2030 menjadi acuan wajib bagi seluruh tenant,” kata Head of Environmental Department PT IMIP, Yundi Sobur.

Berbagai inovasi diterapkan, mulai dari pemanfaatan limbah panas untuk energi listrik hingga pembangunan pembangkit energi terbarukan seperti PLTS dan sistem gas buang. Salah satu tenant bahkan mampu menekan emisi hingga jutaan ton CO₂ per tahun melalui efisiensi energi.

Di sisi lain, teknologi pengendali emisi seperti electrostatic precipitator dan wet scrubber diterapkan untuk memastikan standar lingkungan tetap terjaga.

Namun, perjalanan menuju industri hijau bukan tanpa tantangan. Kebutuhan investasi besar dan adaptasi teknologi menjadi hambatan yang harus dihadapi.

Meski demikian, IMIP tetap melangkah dengan konsisten, sembari memperkuat program penghijauan sebagai kompensasi emisi.

Menanam Masa Depan: Mangrove dan Ruang Hijau

Sejak 2018 hingga 2025, IMIP telah menanam lebih dari 70 ribu bibit mangrove di kawasan Bahodopi dan wilayah lain di Indonesia. Program ini tidak hanya memperbaiki ekosistem pesisir, tetapi juga berkontribusi pada penyerapan karbon dalam jumlah signifikan.

Ruang terbuka hijau di kawasan industri juga terus diperluas hingga hampir dua ribu hektare, dengan puluhan ribu tanaman terestrial yang berfungsi sebagai penyerap karbon.

“Hingga 2030, total target penanaman mencapai 400.000 pohon,” kata Yundi.

Upaya ini diperkuat dengan penggunaan ratusan kendaraan listrik di dalam kawasan industri, sebagai bagian dari transisi menuju operasional rendah emisi.

Harmoni yang Terus Diciptakan

Apa yang terjadi di IMIP menunjukkan bahwa industri besar tidak selalu identik dengan kerusakan lingkungan atau jarak sosial dengan masyarakat. Di Morowali, keduanya justru dipertemukan dalam satu narasi besar: harmoni berkelanjutan.

Dari desa, perempuan, mangrove, hingga teknologi industri, semuanya bergerak dalam satu arah yang sama menciptakan masa depan yang lebih seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan hidup.

IMIP bukan hanya kawasan industri. Ia sedang tumbuh menjadi ekosistem baru, tempat di mana pembangunan dan keberlanjutan tidak lagi dipertentangkan, tetapi dirajut bersama.

x|close