Ntvnews.id, Jakarta - Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang bertujuan mengakhiri perang yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah ditandatangani oleh pemimpin kedua negara.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dokumen tersebut secara digital dari lokasi masing-masing pada Kamis dini hari, 18 Juni 2026.
Dalam proses diplomatik yang mengarah pada kesepakatan tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif berperan sebagai mediator. Sharif juga dijadwalkan turut menandatangani naskah MoU tersebut.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan Israel terhadap Lebanon maupun kelanjutan pendudukan di wilayah negara-negara Arab akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan antara Teheran dan Washington.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam pertemuan dengan para duta besar, kuasa usaha, dan pimpinan misi internasional yang berada di Teheran pada Selasa, 16 Juni 2026, sebagaimana dikutip Kantor Berita IRNA.
Dalam forum tersebut, Araghchi memaparkan perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang ditujukan untuk menghentikan perang yang menurut Iran telah dilancarkan oleh AS dan Israel sejak Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa MoU yang disepakati kedua negara akan mulai berlaku setelah proses penandatanganan resmi yang direncanakan berlangsung pada Jumat. Setelah itu, kedua pihak akan segera melanjutkan perundingan guna mencapai kesepakatan final yang lebih komprehensif.
"Pada tahap awal, perkembangan yang sangat penting adalah deklarasi penghentian perang. Berdasarkan keputusan yang kami buat, penghentian perang telah diumumkan pada Senin pagi, dan tentu saja setelah perjanjian final dicapai, Senin waktu Teheran. Namun memorandum secara resmi akan berlaku pada Jumat," demikian Menlu.
(Sumber: Antara)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Antara)