APPMBGI Tekankan Pentingnya Tata Kelola Program MBG Dibangun dengan Presisi Tinggi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Mei 2026, 17:15
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Letjen TNI (Purn) Glenny H. Kairupan (kiri) Letjen TNI (Purn) Glenny H. Kairupan (kiri) (APPMBGI)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Letjen TNI (Purn) Glenny H. Kairupan, meminta Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal tersebut disampaikan Glenny Kairupan dalam pertemuan bersama Abdul Rivai Ras pada Jumat, 8 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya tata kelola yang disiplin, transparan, dan berkelanjutan dalam menjalankan program MBG berskala nasional.

Menurut Glenny, MBG tidak bisa dipandang hanya sebagai program pembagian makanan untuk anak sekolah. Ia menilai program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Program MBG bukan sekadar soal menyediakan makanan. Ini menyangkut kualitas generasi masa depan Indonesia. Karena itu, tata kelolanya harus dibangun dengan presisi tinggi dan disiplin yang sangat kuat," ujar Glenny.

Baca Juga: APPMBGI Siap Kelola Limbah Program MBG Jadi Kompos dan Bioavtur Ramah Lingkungan

Ia menyampaikan, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau luasnya penerima manfaat, tetapi juga pada kesiapan sistem pengawasan dan tata kelola yang modern.

Glenny menjelaskan, Indonesia saat ini sedang memasuki fase bonus demografi yang akan menjadi penentu pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa dekade ke depan. Karena itu, program MBG dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas generasi muda melalui pemenuhan gizi yang baik sejak usia sekolah.

Selain membantu menekan angka stunting, program tersebut juga diyakini mampu meningkatkan konsentrasi belajar, kualitas kesehatan masyarakat, hingga produktivitas tenaga kerja di masa depan.

Glenny juga menyoroti kompleksitas pelaksanaan program MBG yang melibatkan jutaan porsi makanan setiap hari. Ia mengingatkan bahwa pengawasan keamanan pangan, distribusi logistik, hingga kualitas bahan makanan harus dilakukan secara ketat untuk menghindari berbagai risiko seperti keracunan massal maupun pemborosan anggaran.

"Program sebesar ini tidak bisa dikelola secara biasa. Harus ada standar nasional yang kuat, pengawasan berlapis, manajemen rantai pasok yang modern, serta akuntabilitas kelembagaan yang jelas," terangnya.

Baca Juga: APPMBGI dan Kemenko Pangan Sepakat Perkuat Kolaborasi dalam Tata Kelola Program MBG

Menurutnya, sistem audit dan monitoring berbasis teknologi digital juga perlu diterapkan agar potensi penyimpangan dapat dideteksi lebih cepat. Selain fokus pada aspek gizi, Glenny juga menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi sirkular dalam pelaksanaan MBG.

Ia berharap program tersebut mampu menciptakan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat melalui keterlibatan petani, nelayan, peternak, koperasi desa, hingga pelaku UMKM pangan lokal.

"MBG harus memberi manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat. Petani, nelayan, peternak, koperasi desa, UMKM pangan, semua harus menjadi bagian dari ekosistemnya," ujarnya.

Dengan pola tersebut, MBG dinilai tidak hanya menjadi program sosial, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan dan perputaran ekonomi daerah.

Glenny menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Finlandia, Brasil, dan India telah berhasil menjalankan program makan sekolah berbasis tata kelola modern dan penguatan ekonomi lokal. Namun, menurutnya, Indonesia tetap perlu menyesuaikan penerapan program dengan kondisi geografis dan karakter daerah yang berbeda-beda.

Karena itu, APPMBGI mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil untuk membangun tata kelola MBG yang sehat dan berkelanjutan.

Glenny menegaskan bahwa keberhasilan MBG nantinya tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi dari kemampuan Indonesia membangun sistem yang aman, transparan, dan berkelanjutan.

Ia optimistis MBG dapat menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045 apabila dijalankan dengan disiplin tata kelola yang kuat.

x|close