Ntvnews.id, Cebu - ASEAN mendorong penguatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam siaran pers ASEAN Filipina 2026, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Allan Gepty menegaskan ASEAN tidak hanya dipandang sebagai kawasan pasar regional, tetapi juga sebagai pusat produksi yang terhubung dengan rantai nilai global.
“ASEAN merupakan komunitas ekonomi yang diposisikan bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga pusat produksi,” ujar Gepty dalam konferensi pers bersama Department of Trade and Industry (DTI) dan Department of Foreign Affairs (DFA) Filipina.
Menurut Gepty, salah satu fokus utama ASEAN saat ini adalah memperkuat ekonomi inklusif dengan memperbesar keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global.
Ia mengatakan akses pasar yang semakin luas di kawasan dapat menjadi peluang penting bagi pelaku UMKM untuk berkembang sekaligus memperluas bisnis ke pasar internasional.
“Salah satu agenda perdagangan penting ASEAN adalah inklusivitas, termasuk mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai nilai global. Salah satu caranya ialah memberikan akses pasar yang lebih besar di kawasan,” katanya.
Baca Juga: Dari Cebu, Prabowo Serukan Langkah Konkret Wujudkan Visi BIMP-EAGA 2035
Gepty menambahkan integrasi UMKM ke pasar global bukan hanya terkait aktivitas ekspor, tetapi juga membuka kesempatan kolaborasi dengan perusahaan yang telah menjadi bagian dari jaringan rantai nilai internasional.
Selain sektor perdagangan barang, integrasi ekonomi ASEAN juga mencakup sektor jasa, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru di kawasan.
“Integrasi kawasan ASEAN tidak hanya terbatas pada perdagangan barang. Negara anggota juga dapat memanfaatkan liberalisasi sektor jasa dan mendorong lebih banyak investasi yang membuka peluang usaha serta lapangan kerja,” lanjut Gepty.
Di bawah kepemimpinan Filipina tahun ini, ASEAN juga mendorong pembentukan ASEAN Center of Excellence for MSMEs yang bertujuan mengintegrasikan berbagai program pengembangan UMKM di kawasan.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu (Sekretariat Presiden)
Pusat pengembangan tersebut diharapkan mampu memperkuat kerja sama regional sekaligus meningkatkan kapasitas UMKM ASEAN agar lebih kompetitif di pasar global.
Selain itu, Filipina juga mendorong percepatan penyelesaian dan penandatanganan Digital Economy Framework Agreement serta pengembangan konektivitas sistem pembayaran regional ASEAN.
Baca Juga: Hadiri KTT ASEAN ke-48, Prabowo Bakal Bahas Energi dan Stabilitas Kawasan
Gepty menilai platform digital memiliki peran strategis dalam membantu UMKM memperluas akses pasar ke luar negeri secara lebih mudah dan efisien.
“Platform daring menjadi salah satu penyetara peluang bagi UMKM untuk mengakses pasar luar negeri. Karena itu, aturan yang mengatur transaksi digital dan konektivitas pembayaran regional akan sangat membantu,” pungkas Gepty.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu (Sekretariat Presiden)