Ntvnews.id, Tel Aviv - Citra Israel di dunia internasional disebut mengalami kemerosotan tajam akibat aksi genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Untuk memperbaiki persepsi global tersebut, pemerintah Israel disebut menyiapkan anggaran besar mencapai US$730 juta atau sekitar Rp12,6 triliun pada tahun depan untuk program propaganda.
Dilansir dari The Jerusalem Post yang dikutip Middle East Monitor, Jumat, 8 Mei 2026, anggaran program Hasbara atau propaganda diplomasi Israel diproyeksikan melonjak hingga empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2023, Israel diketahui mengalokasikan sekitar US$150 juta atau setara Rp2,6 triliun untuk kegiatan propaganda. Nilai tersebut bahkan meningkat sekitar 20 kali lipat dibandingkan anggaran sebelum 2023.
Kenaikan anggaran besar-besaran itu masuk dalam rancangan anggaran nasional Israel yang disahkan pada Maret lalu. Dana tersebut nantinya akan disalurkan melalui direktorat diplomasi publik nasional yang bertugas membentuk opini publik internasional terhadap Israel.
Sementara itu, survei terbaru Pew Research Center yang dirilis April 2026 menunjukkan sentimen negatif terhadap Israel di Amerika Serikat terus meningkat. Sebanyak 60 persen warga dewasa AS kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, naik dari 53 persen pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: LPS Catat Jumlah Tabungan Orang Kaya di Atas Rp5 M Naik 21,6 Persen
Jumlah tersebut juga meningkat hampir 20 poin dibandingkan hasil survei pada 2022. Saat ini hanya sekitar 32 persen responden yang masih memandang Israel secara positif.
Perubahan sikap itu disebut terjadi di berbagai kelompok politik di AS. Pew menemukan bahwa 80 persen pendukung Partai Demokrat dan independen yang condong ke Demokrat memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Sementara itu, 57 persen pemilih Republik berusia di bawah 50 tahun juga menunjukkan sikap serupa.
Lembaga survei Gallup turut mencatat tren yang sama. Dalam survei Februari lalu, sebanyak 41 persen warga Amerika mengaku lebih bersimpati kepada Palestina, sedangkan hanya 36 persen yang menyatakan dukungan kepada Israel.
Gallup juga melaporkan tingkat popularitas Israel kini mendekati titik terendah dalam sejarah survei mereka. Sebaliknya, dukungan terhadap wilayah Palestina justru mencapai level tertinggi.
Asap mengepul dari kota Kafr Jouz di provinsi Nabatieh saat pasukan Israel menargetkan daerah tersebut, melanggar gencatan senjata di Lebanon selatan pada Sabtu 2 Mei 2026. /ANTARA/Ramiz Dallah - Anadolu Agency/pri. (Antara)
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di internal Israel sendiri. Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv memperingatkan adanya "krisis yang semakin dalam" terkait posisi Israel di Amerika Serikat, terutama akibat menurunnya dukungan dari kalangan muda, pendukung Demokrat, Republik muda, hingga sebagian komunitas Yahudi.
Laporan lain juga menyoroti meningkatnya isolasi diplomatik Israel di tingkat global. Selain tekanan opini publik, muncul pula kekhawatiran soal "boikot ekonomi yang merayap" karena sejumlah perusahaan, institusi akademik, dan organisasi masyarakat sipil mulai enggan mempertahankan hubungan dengan Israel.
Bendera Israel/ist