Ntvnews.id, Tel Aviv - Militer Israel diduga menutupi informasi terkait pemberhentian ribuan tentaranya selama perang di Jalur Gaza akibat gangguan psikologis.
Laporan surat kabar Haaretz yang dikutip dari Anadolu Agency, Kamis, 7 Mei 2026, menyebut pihak militer Israel tidak mengungkap seluruh data mengenai jumlah prajurit yang diberhentikan dari dinas karena kondisi mental selama konflik berlangsung.
Haaretz mengaku telah meminta data lengkap tersebut kepada juru bicara militer Israel sejak 2025. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan harus diajukan melalui mekanisme Undang-Undang Kebebasan Informasi Israel.
Menurut Haaretz, penundaan tersebut dinilai melanggar hukum karena otoritas terkait seharusnya memberikan tanggapan dalam waktu 30 hari, dengan kemungkinan perpanjangan hingga 120 hari pada kondisi tertentu.
Media itu juga menyebut sekitar satu bulan setelah pengajuan permintaan, pihak Israel meminta tambahan waktu 30 hari untuk merespons. Akan tetapi hingga kini data yang diminta belum juga dipublikasikan.
Baca Juga: Uni Eropa Tolak Perluasan Kendali Israel di Gaza, Soroti “Garis Oranye”
Sejumlah pejabat militer Israel yang bertugas di bidang personalia disebut mengatakan penundaan itu terjadi karena laporan yang ada "tidak memuaskan para komandan atau tidak sesuai dengan tujuannya".
Bahkan, seorang perwira mengaku terdapat pihak yang mengetahui cara memanipulasi angka dan persentase serta menyembunyikan informasi yang dianggap merugikan.
"Jelas bahwa militer tidak ingin publik mengetahui sejauh mana tekanan psikologis yang dialami para prajurit," kata sumber tersebut.
Menurut Haaretz, militer Israel sengaja menghindari publikasi data tersebut karena skalanya dinilai besar dan dikhawatirkan dapat memengaruhi moral politik di dalam negeri.
Arsip foto - Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia, Gaza utara, yang sudah tidak berfungsi karena serangan Israel. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)
"Pada hari-hari awal (agresi), angkatan darat dan Kementerian Pertahanan harus menangani jumlah kasus yang belum terjadi sebelumnya, yang melibatkan tentara yang menderita tekanan psikologis berat," demikian laporan Haaretz.
Sejumlah laporan sebelumnya juga menyebut banyak tentara yang terlibat dalam pengepungan Gaza mengalami tekanan mental serius hingga tidak mampu kembali ke medan tempur.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, militer Israel disebut meningkatkan jumlah petugas kesehatan mental secara signifikan, membangun pusat perawatan khusus, serta merahasiakan data bunuh diri prajurit dari publikasi resmi hingga akhir 2024.
Organisasi pro-Palestina telah mengajukan 50 gugatan di pengadilan di seluruh dunia terhadap tentara Israel atas tuduhan melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza, demikian dilaporkan media Israel pada Senin (6/1/2025). (Antara)