Ntvnews.id, Phnom Penh - Sepupu Perdana Menteri Kamboja, Hun To, mengakui memiliki 30 persen saham di platform pembayaran digital yang dikaitkan dengan praktik penipuan dan pencucian uang.
"Saya ingin memberi tahu publik bahwa saya memang memiliki 30 persen saham di HUIONE PAY PLC," kata Hun To dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 7 Mei 2026.
Meski menguasai sebagian saham perusahaan, Hun To menegaskan dirinya tidak terlibat dalam operasional bisnis Huione Pay dan mengaku tidak pernah memperoleh keuntungan dari perusahaan tersebut.
Ia menyatakan tidak pernah menerima keuntungan, dividen, maupun aset apa pun dari Huione Pay.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menuduh Huione Group terlibat dalam pencucian uang untuk kelompok kriminal transnasional yang menjalankan aksi penipuan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Kepulangan WNI Eks Sindikat Penipuan Daring dari Kamboja Terus Meningkat
Huione Group diketahui memiliki sejumlah layanan bisnis, mulai dari e-commerce, sistem pembayaran digital, hingga pertukaran mata uang kripto.
Sementara itu, mantan ketua Huione, Li Xiong, telah diekstradisi ke China pada 1 April lalu. Otoritas China menyebut Li sebagai figur utama dalam sindikat perjudian dan penipuan lintas negara berskala besar yang diduga melakukan berbagai tindak kejahatan.
Berdasarkan laporan likuidator Reachs & Partners, Li tercatat memiliki 62 persen saham Huione Pay, sedangkan Hun To menguasai 30 persen saham perusahaan tersebut.
Sejak bulan lalu, sejumlah nasabah menggelar aksi demonstrasi menuntut pencairan dana mereka di platform Huione yang kini bernama H-Pay. Para pengunjuk rasa mengaku tidak dapat mengakses rekening mereka sejak Desember tahun lalu.
Di sisi lain, Bank Nasional Kamboja menyatakan izin usaha platform Huione telah resmi dicabut.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet (The Better Cambodia)