Rupiah Melemah ke Rp17.357 per Dolar AS di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Mei 2026, 11:05
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi 8 Mei 2026 bergerak melemah 24 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.357 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.333 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai rupiah tertekan karena eskalasi konflik di Selat Hormuz antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Rupiah pada perdagangan Jumat ini diperkirakan menguat terbatas dalam kisaran yang tipis di Rp17.320 hingga Rp17.370, dipengaruhi oleh mulai meredanya tekanan terhadap mata uang tersebut. 

"Namun, faktor global kembali memengaruhi dengan naiknya harga minyak setelah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz yang meningkat akibat aksi balasan militer AS terhadap Iran," ujarnya Jumat 8 Mei 2026.

Baca juga: Gubernur BI Sebut Cadangan Devisa Cukup untuk Jaga Rupiah

Mengutip Sputnik, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan bahwa AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.

Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS mengatakan bahwa militer AS menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS.

Saat ini, Situasi di Selat Hormuz dan kota-kota pesisir Iran telah kembali normal setelah terjadi baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat

“Walaupun tidak berlangsung lama, namun telah memberikan sinyal negatif terhadap keberlangsungan negosiasi AS dan Iran,” ucap Rully.

Pasar juga menanti data Non Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis Jumat malam. Rilis data tersebut akan menjadi acuan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Baca juga: Rupiah Kamis Menguat ke Rp17.325 per Dolar AS Dipicu Meredanya Konflik AS-Iran

“Data NFP diperkirakan turun menjadi tambahan 60 ribu pekerja dibanding kenaikan 178 ribu periode sebelumnya,” kata dia.

Melihat sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan data cadangan devisa (cadev). Rully memperkirakan cadev pada bulan April 2026 akan naik di atas 150 miliar dolar AS. (Sumber:Antara)

x|close