Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan kebutuhan valuta asing (valas) tetap terpenuhi meski terjadi peningkatan permintaan akibat faktor musiman pada periode April hingga Mei 2026.
Perry menjelaskan lonjakan kebutuhan valas pada periode tersebut dipicu meningkatnya aktivitas masyarakat untuk ibadah umrah dan haji, serta kebutuhan korporasi dalam melakukan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
“Kebetulan secara musiman, April dan Mei itu permintaan valasnya tinggi,” kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis, 07 Mei 2026.
Di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlangsung, Perry menegaskan bank sentral tetap bekerja maksimal untuk menjaga stabilitas mata uang nasional dengan terus berkoordinasi bersama pemerintah.
Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Tengah Gejolak Global
“Kenapa ada pelemahan rupiah. Seluruh mata uang dunia itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out,” ujar dia.
Menurut Perry, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global, termasuk meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi juga mendorong investor asing menarik dana dari negara-negara emerging market sehingga memperkuat posisi dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.
Meski demikian, Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi domestik tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada triwulan I 2026.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatatkan surplus dan posisi cadangan devisa tetap berada pada level tinggi.
Neraca perdagangan selama Januari hingga Maret 2026 tercatat surplus sebesar 5,5 miliar dolar AS yang ditopang surplus perdagangan nonmigas meskipun neraca perdagangan migas masih mengalami defisit.
Baca Juga: Jaksa Ungkap Penukaran Valas Orang Dekat Nurhadi Capai Rp68 Miliar
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 mencapai 148,2 miliar dolar AS atau setara pembiayaan enam bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Pada awal triwulan II hingga Rabu, 30 April 2026, aliran modal asing juga mencatat net inflows sebesar 3,3 miliar dolar AS, terutama masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang didorong meningkatnya imbal hasil kedua instrumen tersebut.
Sebelumnya, sepanjang triwulan I 2026, investasi portofolio asing sempat mengalami net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
(Sumber: Antara)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis 7 Mei 2026. ANTARA/Putu Indah Savitri (Antara)