Apindo Soroti Dampak Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen bagi Dunia Usaha

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 19:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani saat menyampaikan pidato pembuka dalam acara diskusi Pusdiklat Pajak di Jakarta, Rabu (8/4/2026) (ANTARA/Bayu Saputra) Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani saat menyampaikan pidato pembuka dalam acara diskusi Pusdiklat Pajak di Jakarta, Rabu (8/4/2026) (ANTARA/Bayu Saputra) (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyoroti dampak pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I 2026 terhadap kondisi dunia usaha.

Ia menilai bahwa capaian pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha, terutama di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi.

Menurutnya, meskipun angka pertumbuhan tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang cukup kuat, tantangan utama terletak pada bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara nyata dalam aktivitas bisnis.

“Dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat,” kata Shinta di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Baca Juga: Apindo Komit Sukseskan Perjanjian Tarif RI-AS Demi Stabilitas Jutaan Pekerja

Shinta menjelaskan bahwa kondisi asymmetric impact of growth mencerminkan situasi ketika pertumbuhan ekonomi tidak memberikan manfaat yang merata bagi seluruh sektor, sementara beban biaya justru terus meningkat.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah pelemahan nilai tukar rupiah, khususnya bagi sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

Depresiasi rupiah dari kisaran Rp16.800 per dolar AS pada awal tahun hingga mendekati Rp17.400 per dolar AS pada akhir triwulan I 2026 menyebabkan peningkatan biaya produksi dan menekan margin keuntungan pelaku usaha.

Bagi sektor yang bergantung pada impor, kondisi ini tidak hanya mengurangi keuntungan, tetapi juga membatasi ruang ekspansi usaha.

Dari sisi struktur pertumbuhan, sektor-sektor yang mengalami peningkatan tertinggi umumnya berasal dari sektor berbasis konsumsi domestik yang terdorong oleh momentum musiman.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan sebesar 13,14 persen, diikuti sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,62 persen, serta perdagangan besar dan eceran sebesar 6,26 persen.

"Sektor-sektor ini jelas mendapatkan manfaat dari demand-driven expansion, khususnya karena lonjakan mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode libur panjang," tutur dia.

Baca Juga: Bertemu Apindo, Prabowo Dorong Pengusaha Buka Lapangan Kerja

Di sisi lain, sektor manufaktur justru mengalami kontraksi sebesar 1,01 persen, padahal sektor ini merupakan salah satu pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Shinta menambahkan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi secara agregat dengan kondisi riil di tingkat pelaku usaha, di mana banyak perusahaan masih menghadapi tekanan berupa penyusutan margin keuntungan atau margin compression.

Ke depan, ia menekankan pentingnya kebijakan yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memastikan distribusi manfaat yang lebih merata dan berkelanjutan.

"Karena itu, momentum pertumbuhan 5,61 persen ini perlu dijaga melalui penguatan stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya yang saat ini menghadapi tekanan biaya cukup besar," tutur Shinta.

(Sumber: Antara)

 

x|close