Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Direktur Utama Pertama Dana Moneter Internasional (IMF), Dan Katz, pada Jumat, 7 Agustus 2026, memperingatkan bahwa semakin luasnya penggunaan stablecoin yang dipatok pada dolar AS berpotensi membawa sejumlah dampak terhadap perekonomian, termasuk mengurangi ruang gerak kebijakan moneter di sejumlah negara serta meningkatkan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.
"Dolarisasi dapat mempengaruhi makroekonomi jangka panjang. Meskipun rumah tangga mendapat manfaat dari akses ke dolar, setelah mengakar, dolarisasi cenderung sangat persisten, bahkan setelah kondisi yang memicunya mereda," kata Katz dalam pidatonya di Universitas Cape Town.
Baca Juga: Trump Yakin Perang AS-Iran Segera Berakhir
Menurut Katz, stablecoin yang nilainya dipatok terhadap dolar AS memiliki karakteristik berbeda dibandingkan bentuk dolarisasi sebelumnya. Pasalnya, aset digital tersebut dapat menyebar dengan jauh lebih cepat melalui penggunaan telepon pintar dan berbagai platform digital.
Katz turut mengingatkan bahwa peningkatan adopsi stablecoin berpotensi memperbesar volatilitas arus modal serta memperkuat tekanan terhadap nilai tukar ketika terjadi krisis. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu risiko ketidakstabilan sektor keuangan di sejumlah negara.
Ia menambahkan, di negara-negara yang memiliki akses terbatas terhadap dolar AS dan kerangka kebijakan makroekonomi yang relatif lemah, penggunaan stablecoin secara luas dapat mendorong kenaikan bersih kepemilikan aset dalam mata uang asing sekaligus meningkatkan tingkat dolarisasi.
Ilustrasi - Logo Dana Moneter Internasional (IMF). (Antara)