PLN EPI Percepat Pembangunan Infrastruktur LNG untuk Ketahanan Energi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Sep 2026, 14:35
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PT PLN EPI Agus Purnomo (tengah) berdiskusi dengan Tenaga Ahli Proyek PLN EPI untuk memastikan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kualitas dan standar operasional keselamatan pada proyek pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) Pemping. General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PT PLN EPI Agus Purnomo (tengah) berdiskusi dengan Tenaga Ahli Proyek PLN EPI untuk memastikan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kualitas dan standar operasional keselamatan pada proyek pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) Pemping. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mempercepat pembangunan infrastruktur gas alam cair atau LNG di sejumlah wilayah Indonesia sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PLN EPI Agus Purnomo mengatakan strategi tersebut dilakukan melalui pengelolaan proyek secara terintegrasi, pengamanan kapasitas rantai pasok sejak awal, serta peningkatan peran industri dalam negeri.

Menurut Agus, pembangunan infrastruktur LNG menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan, tetapi juga kemampuan industri dalam menyediakan peralatan dan menyelesaikan proyek sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.

"Tantangannya bukan hanya mengembangkan proyek. Kami juga perlu memastikan kapasitas dari pemasok peralatan utama, galangan kapal, dan juga kontraktor pelaksana untuk menyelesaikannya proyek tepat waktu," ujar Agus saat menjadi panelis dalam acara Gastech Exhibition & Conference 2026 di Bangkok, Thailand, Jumat, 25 September 2026.

Baca Juga: PLN EPI Proyeksikan Kebutuhan LNG Nasional Melonjak hingga 2034

Gastech 2026 menjadi forum yang mempertemukan sekitar 800 pemimpin sektor energi, pembuat kebijakan, inovator, dan investor strategis. Berbagai topik dibahas dalam ajang tersebut, mulai dari gas alam dan LNG hingga hidrogen, solusi rendah karbon, elektrifikasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan di sektor energi.

PLN EPI telah mempercepat pengembangan proyek LNG midstream sejak 2023. Proyek tersebut tersebar di sekitar 25 lokasi di Indonesia dan diarahkan untuk mendukung program dedieselisasi PLN, yakni mengganti penggunaan diesel dengan LNG sekaligus meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.

Di sisi lain, Agus menyebut industri LNG dunia saat ini menghadapi keterbatasan kapasitas eksekusi. Pada awal 2026, kemampuan pembangunan kapal LNG berukuran besar di Korea Selatan dan China diperkirakan mencapai sekitar 85 kapal per tahun.

Sementara itu, jumlah kapal LNG dalam orderbook tercatat sebanyak 268 unit per 31 Maret 2026. Beberapa kapal yang dipesan pada 2026 bahkan dijadwalkan baru dikirim hingga 2029.

Baca Juga: PLN EPI Proyeksikan Kebutuhan Gas Pembangkit Listrik Naik 4,5 Persen per Tahun hingga 2034

"Bertambahnya kapasitas industri tidak serta-merta menjamin tersedianya slot produksi ketika proyek membutuhkan peralatan atau kapal," kata Agus.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PLN EPI menerapkan pengelolaan proyek LNG midstream dalam satu portofolio yang terintegrasi. Perencanaan FSRU, kapal LNG, fasilitas regasifikasi dan penyimpanan, jaringan pipa, hingga koneksi ke pembangkit dilakukan secara sinkron.

Strategi tersebut meliputi perencanaan kapasitas pada tingkat portofolio, pelibatan pemasok sejak tahap awal, penerapan strategi aset yang fleksibel, serta standardisasi desain dan peralatan.

Agus juga mengungkapkan bahwa PLN EPI tengah mengevaluasi opsi mengubah kapal LNG yang sudah ada menjadi FSRU. Langkah tersebut dipertimbangkan sebagai alternatif ketika kapasitas galangan untuk pembangunan kapal baru terbatas.

Menurut dia, konversi kapal LNG menjadi FSRU tidak secara otomatis memberikan waktu pengerjaan yang lebih cepat maupun biaya yang lebih rendah. Namun, opsi tersebut dapat menjadi jalur alternatif ketika kapasitas pembangunan kapal baru menghadapi keterbatasan.

Selain memanfaatkan teknologi dan pemasok global untuk kebutuhan tertentu, PLN EPI juga mendorong peningkatan kemampuan industri nasional. Penguatan tersebut mencakup pekerjaan konstruksi, fabrikasi, tangki penyimpanan, perpipaan, sistem kelistrikan, galangan kapal, operasi dan pemeliharaan, hingga jasa rekayasa.

"Kami membutuhkan kemampuan global untuk teknologi yang sangat khusus, tetapi skala pipeline proyek Indonesia dapat digunakan untuk secara bertahap membangun kemampuan domestik yang lebih kuat," ujar Agus.

Hingga 2029, PLN EPI menargetkan pembangunan hampir 20 lokasi terminal penerimaan LNG satelit darat. Proyek tersebut terdiri atas satu lokasi di Nias, enam di Sulawesi, sembilan di Nusa Tenggara, dan empat di Papua Utara melalui empat klaster mitra strategis joint development agreement (JDA).

Seluruh terminal tersebut akan dikembangkan dalam satu kerangka program terintegrasi agar rantai pasoknya tidak berjalan secara terpisah.

Agus mengatakan semakin ketatnya kapasitas industri global membuat keberhasilan pengembangan LNG tidak hanya bergantung pada kesiapan investasi. Kemampuan mengamankan sekaligus menyelaraskan kapasitas eksekusi juga menjadi faktor penting dalam pelaksanaan proyek.

Melalui strategi tersebut, PLN EPI menargetkan pembangunan infrastruktur LNG dapat terlaksana tepat waktu guna mendukung ketahanan energi serta menjaga keandalan sistem kelistrikan Indonesia.

(Sumber: Antara)

x|close