Ekonomi Tumbuh 5,61% tetapi Rupiah Terkapar Rp 17.408, Gubernur BI Ungkap Penyebabnya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 06:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait melemahnya mata uang rupiah. Perry mengungkapkan terdapat dua penyebab yang membuat rupiah mengalami pelemahan terdalam di posisi Rp 17.408 per US$ pada Selasa, 5 Mei 2026 pagi.

Menurut Perry, rupiah mengalami undervalue di tengah kondisi perekonomian yang tumbuh. Diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I - 2026 mencapai 5,61%.

"Tadi dibahas dan mendapatkan arahan mengenai nilai tukar, bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," kata Perry seusai pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Perry mengatakan, fundamental ekonomi nasional masih kokoh. Selain ekonomi tumbuh 5,61%, inflasi juga terjaga pada level 2,42%. Kemudian, cadangan devisa pada akhir Maret berada di angka US$ 148,2 miliar dan kredit tumbuh tinggi di angka 9,49%. Dengan berbagai indikator itu, Perry menyatakan, seharusnya menunjukan rupiah akan stabil dan menguat. Namun, Perry mengakui terdapat dua faktor yang menjadi tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar hingga saat ini menembus Rp 17.408 per US$.

"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry.

Baca Juga: WhatsApp Hapus Fitur Avatar untuk Pengguna Android dan iOS

Perry menjelaskan, faktor global, yak i harga minyak yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang meningkat, imbal hasil pada obligasi yield US Treasury 10 tahun yang tinggi hingga 4,47%, dan mata uang dolar yang mengalami penguatan.

"Dan pak Menko (Perekonomian) tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," katanya.

Selain itu Perry juga menjelaskan faktor musimam. Dikatakan, pada periode April hingga Juni, permintaan terhadap dolar tinggi karena adanya pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, dan jemaah haji.

"April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dolarnya tinggi, ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jamaah haji, tetapi Rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat," katanya.

x|close