Rupiah Lebih Tahan Banting dari Mata Uang Negara Lain, Ini Buktinya!

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 15:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini bukan disebabkan oleh terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini bukan disebabkan oleh terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id , Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Selasa 05 Mei 2026 dibuka sedikit terdepresiasi ke level 17.420 per dolar Amerika Serikat (AS).

Namun, di balik tekanan tersebut, pelemahan rupiah dinilai masih dalam batas wajar dan relatif lebih moderat dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market sejak awal konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu

Ia memaparkan, sejumlah mata uang lain justru mengalami pelemahan yang lebih dalam.

Peso Filipina tercatat melemah 6,58 persen, Baht Thailand turun 5,04 persen, Rupee India terkoreksi 4,32 persen, Peso Chile melemah 4,24 persen, sedangkan Rupiah berada di kisaran pelemahan 3,65 persen.

Adapun won Korea mencatat pelemahan lebih rendah, yakni 2,29 persen.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin di Jakarta, Selasa 05 Mei 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa meski rupiah kini berada di kisaran 17.400 per dolar AS, tekanan yang terjadi masih tergolong moderat dan tidak sebesar yang dialami sejumlah negara di kawasan maupun global.

Bank Indonesia pun memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Erwin menegaskan, langkah-langkah tersebut ditempuh secara konsisten dan terukur agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan nilai tukar rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi domestik.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp17.000, Bank Indonesia Perkuat Langkah Stabilitas

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata dia.

Di tengah tekanan global yang masih berlangsung, komitmen otoritas moneter ini menjadi penopang penting agar gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

x|close