Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued.
Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS pada 21 April 2026. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,87 persen secara point to point dibandingkan akhir Maret 2026.
"Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dikutip, Jumat 24 April 2026.
Perry mengakui, dampak dari perang Iran memberikan tekanan terhadap rupiah, melalui kenaikan harga minyak, penguatan dollar AS, hingga tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Rupiah Naik ke Rp17.280 per Dolar AS, Pasar Masih Cermati Negosiasi AS-Iran
Kondisi tersebut turut memengaruhi aliran modal global ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perry mengungkapkan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
BI meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.
BI juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap Rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.
Baca juga: Cek Fakta: APBN RI Hanya Cukup 3 Bulan dan Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar AS
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," tandasnya.
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (22/4/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)