Pelemahan Rupiah Juga Dipicu Penguatan Greenback

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 11:45
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (22/4/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (22/4/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi tercatat melemah sebesar 108 poin atau 0,63 persen ke level Rp17.289 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS.

Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada kenaikan harga energi global.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengacu pada laporan Sputnik, Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya memperpanjang gencatan senjata secara sepihak dengan Iran, namun tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan negara tersebut. Langkah ini, menurut Trump, bertujuan memberi waktu bagi Iran untuk mengajukan "proposal terpadu”.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai pelanggaran komitmen, blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi kendala utama dalam proses negosiasi.

Baca Juga: Rupiah Selasa Menguat ke Rp17.126 per Dolar AS di Tengah Harapan Kesepakatan AS dan Iran

Ia menegaskan bahwa Iran tetap terbuka terhadap dialog dan kesepakatan, namun menilai adanya itikad buruk, tekanan, dan ancaman sebagai penghambat tercapainya negosiasi yang konstruktif. Pezeshkian juga menyoroti adanya kontradiksi antara pernyataan dan tindakan dari pihak AS.

Akibat belum tercapainya kesepakatan, rencana pertemuan lanjutan putaran kedua yang semula dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Rabu, 22 April 2026 harus ditunda.

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2025. <b>(Antara)</b> Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2025. (Antara)

Laporan dari Anadolu Agency menyebutkan harga energi global meningkat tajam akibat ketidakpastian gencatan senjata yang rapuh serta risiko kegagalan negosiasi damai, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.

Harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran 98,50 dolar AS per barel pada Selasa, 21 April 2026, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke sekitar 89,60 dolar AS per barel. Sementara itu, harga gas alam Eropa juga mengalami kenaikan 8,2 persen, dengan kontrak berjangka TTF mencapai sekitar 51,3 dolar AS per megawatt-jam.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen dinilai menunjukkan fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Namun demikian, ruang kebijakan yang terbatas akibat inflasi yang mendekati batas atas target serta kenaikan harga energi membuat respons pasar cenderung berhati-hati.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.156 per Dolar AS, Dibayangi Negosiasi AS–Iran

Untuk meredam gejolak, Bank Indonesia juga meningkatkan batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa langkah ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi rupiah.

“Pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan hari ini juga mencerminkan reaksi pasar domestik terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya, dimana permintaan dolar AS sudah meningkat,” ungkap Amru.

Ia menambahkan, pada awal perdagangan kondisi likuiditas yang relatif tipis membuat tekanan pasar semakin terasa, sehingga mendorong pelemahan rupiah lebih dalam. Aktivitas jual beli dolar oleh pelaku pasar domestik serta potensi arus keluar modal turut memperbesar tekanan tersebut.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dinilai merupakan hasil kombinasi penguatan dolar AS, meningkatnya risiko global, serta keterbatasan ruang kebijakan domestik. Meski Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, tekanan jangka pendek masih cukup besar.

“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Research and Development ICDX.

(Sumber: Antara)

x|close