Ntvnews.id
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyampaikan bahwa penyaluran kredit akan difokuskan pada sektor-sektor prospektif dan resilien dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Sejalan dengan itu, Bank Mandiri juga terus memperkuat dukungan terhadap ekonomi kerakyatan melalui akselerasi pembiayaan UMKM sekaligus mendukung berbagai agenda strategis pemerintah termasuk di dalamnya penguatan sektor produktif dan juga pembangunan nasional,” kata Novita dalam konferensi pers daring di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.
Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap ekonomi kerakyatan merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjalankan peran sebagai agen pembangunan bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan KUR Rp7,35 Triliun hingga Februari 2026, UMKM Jadi Fokus Utama
Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit.
Perseroan juga terus mendorong peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) guna menjaga efisiensi struktur pendanaan dan stabilitas likuiditas.
Rasio loan to deposit ratio (LDR) pun akan dipertahankan pada level sehat.
Dalam hal profitabilitas, Bank Mandiri memperkirakan net interest margin (NIM) tetap stabil melalui penguatan ekosistem, percepatan transaksi, serta optimalisasi komposisi portofolio guna menjaga yield of loan dan cost of fund tetap optimal.
Selain itu, kontribusi fee based income juga menjadi fokus sebagai sumber pertumbuhan berkelanjutan, khususnya yang bersifat pendapatan berulang (recurring income).
Penguatan ini turut didukung oleh kapabilitas digital melalui aplikasi Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri, serta meningkatnya aktivitas transaksi nasabah di dalam ekosistem Bank Mandiri.
Hingga Maret 2026, jumlah pengguna Livin’ by Mandiri tercatat tumbuh 27 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 39 juta pengguna, dengan frekuensi transaksi meningkat 13 persen menjadi 1,24 miliar transaksi.
Sementara itu, Kopra by Mandiri telah melayani sekitar 335 ribu pengguna terdaftar, juga tumbuh 27 persen (yoy), dengan frekuensi transaksi naik 13 persen menjadi 395 juta transaksi. Sekitar 85 persen pengguna platform ini merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Secara keseluruhan, dengan fundamental yang kuat, strategi bisnis yang terarah, serta disiplin dalam pengelolaan risiko, Bank Mandiri optimis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di sepanjang tahun 2026,” ujar Novita.
Per akhir Maret 2026, Bank Mandiri mencatat laba konsolidasi sebesar Rp15,4 triliun atau meningkat 16,6 persen secara tahunan.
Baca Juga: Kredit Infrastruktur Bank Mandiri Tembus Rp491,63 Triliun, Tumbuh 30,8 Persen
Penyaluran kredit tumbuh 17,4 persen menjadi Rp1.530 triliun, sedangkan penghimpunan DPK naik 21,1 persen menjadi Rp1.675 triliun.
Kinerja tersebut ditopang oleh kualitas aset yang tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) bank only di kisaran 0,98 persen dan cost of credit (COC) sebesar 0,48 persen. Coverage ratio juga terjaga di level 245 persen.
Namun demikian, NIM tercatat mengalami penurunan sebesar 12 basis poin secara tahunan dari 4,58 persen pada Maret 2025 menjadi 4,46 persen pada Maret 2026.
Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) tetap kuat di level 19,7 persen dan return on equity (ROE) mencapai 22,1 persen. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga menunjukkan perbaikan menjadi 58,0 persen.
(Sumber: Antara)
Tangkapan layar Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini memaparkan materi dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan I 2026 secara daring di Jakarta, Selasa (21/4/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)