Rupiah Melemah ke Rp17.289 per Dolar AS, Terseret Ketegangan AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 11:28
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) (Antara)


Ntvnews.id
, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Kamis 23 April 2026 melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan, pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara AS dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.

“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya, Kamis 23 April 2026.

Mengutip Sputnik, Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika memperpanjang gencatan senjata secara pihak dengan Iran dengan sambil tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca jugaRupiah Melemah ke Rp17.156 per Dolar AS, Dibayangi Negosiasi AS–Iran

Dengan memperpanjang gencatan senjata, Trump mengatakan hal itu akan memberikan waktu bagi Iran untuk mengajukan "proposal terpadu”.

Adapun Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

Menurut Pezeshkian, Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman dari AS merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus.

Pezeshkian menegaskan bahwa dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan.

Karena tidak menemui titik temu antara kedua belah pihak, pertemuan untuk pembicaraan negosiasi putaran kedua di Pakistan yang direncanakan terjadi pada Rabu (22/4) akhirnya tertunda.

Ilustrasi - Unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal dalam latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas dekat Selat Hormuz di Hormozgan, Iran, pada Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Latihan Gabungan Militer Angkatan Laut/Tentara <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal dalam latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas dekat Selat Hormuz di Hormozgan, Iran, pada Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Latihan Gabungan Militer Angkatan Laut/Tentara (Antara)

Anadolu melaporkan bahwa harga energi melonjak karena ketidakpastian tentang gencatan senjata AS-Iran yang rapuh dan risiko negosiasi damai gagal, sehingga memicu kekhawatiran baru tentang gangguan pasokan global.

Minyak mentah Brent berada di sekitar 98,50 dolar AS per barel pada pukul 18:40 GMT per Selasa (22/4), sementara patokan AS West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi sekitar 89,60 dolar AS per barel.

Harga gas alam Eropa juga naik 8,2 persen, dengan kontrak berjangka TTF (TitleTransfer Facility) meningkat ke sekitar 51,3 dolar AS per megawatt-jam karena pasar memperhitungkan risiko yang lebih rendah terhadap gangguan pasokan yang lebih dalam.

Sentimen lain berasal dari ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama turut memperkuat dolar AS, sehingga mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melihat dari sisi domestik, lanjut dia, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Namun, ruang kebijakan yang terbatas akibat inflasi yang mendekati batas atas target serta meningkatnya tekanan harga energi membuat respons pasar cenderung berhati-hati.

Baca jugaRupiah Selasa Menguat ke Rp17.126 per Dolar AS di Tengah Harapan Kesepakatan AS dan Iran

Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan hari ini juga mencerminkan reaksi pasar domestik terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya, dimana permintaan dolar AS sudah meningkat,” ungkap Amru.

Pada awal perdagangan, katanya, kondisi likuiditas yang relatif lebih tipis membuat tekanan tersebut lebih mudah mendorong pelemahan rupiah secara signifikan. Aksi jual beli dolar oleh pelaku pasar domestik dan potensi arus keluar modal turut memperbesar tekanan di awal sesi.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dinilai mencerminkan kombinasi penguatan dolar AS, meningkatnya risiko global, serta keterbatasan ruang kebijakan domestik. Meskipun BI telah memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi valas dan kebijakan DNDF, tekanan jangka pendek disebut masih cukup besar.

“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Research and Development ICDX. (Sumber:Antara)

x|close