Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.123 per Dolar AS, Ditopang Harapan Negosiasi Iran-AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Apr 2026, 11:39
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Rabu 15 April 2026 menguat 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.123 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan rupiah menguat dipengaruhi harapan negosiasi antara Iran dengan AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp17070 - Rp17.120 dipengaruhi oleh harapan ruang negosiasi kedua antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak turun dan indeks dolar melemah,” katanya, Rabu 15 April 2026.

Laporan Sputnik mengungkapkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance kemungkinan akan memimpin lagi delegasi AS dalam putaran kedua negosiasi dengan Iran apabila dilaksanakan nantinya.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.030 per Dolar AS, Seiring Israel Langgar Gencatan Senjata

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa putaran berikutnya dari negosiasi antara Washington dan Teheran dapat berlangsung dalam dua hari ke depan di Pakistan.

Sebelumnya, perundingan telah diadakan di ibu kota Pakistan, Islamabad, selama akhir pekan lalu untuk mengakhiri secara permanen perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, tetapi kesepakatan belum berhasil dicapai.

Upaya untuk mengadakan putaran pembicaraan berikutnya sedang berlangsung.

“Negosiasi kedua belum tentu menjamin titik kesepakatan namun harapan harga minyak turun masih akan tetap terjaga,” ujar dia.

Melihat sentimen domestik, permintaan lelang obligasi disebut memberikan harapan penurunan yield obligasi dan pembiayaan utang pemerintah.

Baca juga: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah, Jadi Peluang Dongkrak Ekspor

“Permintaan obligasi pemerintah pada lelang kemarin naik 34 persen yang disumbang terutama dari tenor menengah yang mencapai Rp42 triliun dan mendorong yield turun 20 hingga 30 bps (basis points), namun beban pembayaran bunga utang masih tinggi terhadap APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ungkap Rully. (Sumber:Antara)

x|close