Ntvnews.id
Terkait pergerakan rupiah yang sempat tertekan ini, banyak pasar menilai tidak mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia.
Tekanan yang terjadi lebih merupakan bagian dari dinamika global yang tengah bergejolak, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menegaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang dunia, khususnya di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan meningkatnya kecenderungan investor global mencari aset aman.
Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu
“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” ujarnya, Rabu 8 April 2026.
David menekankan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang solid.
Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali dalam target Bank Indonesia, serta sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat dengan permodalan dan likuiditas yang memadai.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level yang sehat, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor. Dalam laporan Bank Indonesia, cadangan devisa RI pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar USD 148,2 miliar.
"Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel," tambah David.
Pandangan senada disampaikan Ekonom Fakhrul Fulvian. Ia melihat pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Fakhrul menambahkan, salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur pemerintah.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.985 per Dolar AS Seiring Redanya Konflik AS-Iran
Dalam kondisi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.
Meski demikian, ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat.
Intervensi di pasar, baik melalui spot maupun instrumen derivatif, dinilai penting untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar, meski tidak serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.
Peluang di Balik Normalisasi Rupiah
Di balik tekanan yang terjadi, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi perekonomian nasional.
David melihat kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan.
“Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik,” katanya.
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan Batu Bara Diprioritaskan untuk Kebutuhan Domestik, Baru Sisanya Diekspor
Fakhrul pun melihat adanya tanda-tanda stabilisasi global, khususnya dari meredanya tensi geopolitik dan naiknya harga komoditas yang menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir. Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda secara bertahap.
Ia menilai fase overshooting yang terjadi saat ini akan diikuti oleh proses normalisasi nilai tukar. Kondisi ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan pelaku pasar sebagai momentum untuk mulai menyesuaikan strategi investasi.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya mencerminkan dinamika global semata, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan daya saing ekonomi nasional ke depan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait perlemahan nilai tukar yang sempat tembus Rp17 Ribu per dolar AS. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)