Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut, Jadi Inspirasi Green Warrior Bandung

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jul 2026, 23:21
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
 Penyandang disabilitas tuna daksa sekaligus perajut kain, Elis Juarsih (47) mengajarkan cara membuat gelang dengan merajut benang kepada anggota Green Warriors diacara Green Bus Pertamina 2026, rabu (8/7) di Kampoeng Radjoet Binong. Penyandang disabilitas tuna daksa sekaligus perajut kain, Elis Juarsih (47) mengajarkan cara membuat gelang dengan merajut benang kepada anggota Green Warriors diacara Green Bus Pertamina 2026, rabu (8/7) di Kampoeng Radjoet Binong. (Pertamina)

Ntvnews.id, Bandung - Kampung Rajut Binong Jati telah menjadi salah satu sentra rajut terbesar di Kota Bandung sejak tahun 1970-an. Berawal dari segelintir perajin, kawasan ini terus berkembang dan kini dikenal sebagai pusat kreativitas yang mampu mengolah benang menjadi beragam produk bernilai.

Seiring waktu, Kampung Rajut tidak hanya menjaga tradisi merajut, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Melalui dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina, semangat tersebut semakin meluas dengan hadirnya pemberdayaan bagi penyandang disabilitas yang tergabung dalam "Komunitas Fable."

Bersama Merajut Asa Kita, para perajin difabel memperoleh akses bahan baku, pendampingan, hingga pemasaran, sehingga mereka dapat berkarya dari rumah sesuai kondisi mobilitas masing-masing.

“Dulu kami kesulitan memasarkan hasil kerajinan. Sekarang kami bisa terus berkarya dan memiliki penghasilan yang lebih tetap. Di sini kami dipandang dari kemampuan, bukan dari keterbatasan,” ujar Koordinator Komunitas Fable, Elis Juwarsi di Bandung, Rabu, 8 Juli 2026.

Saat ini, sekitar 10 anggota Komunitas Fable, aktif berkarya. Kehadiran program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, tetapi juga menghadirkan rasa percaya diri dan kesempatan yang selama ini sulit diperoleh di dunia kerja formal.

Local Hero Kampung Rajut Binong Jati, Eka Rahmat Jaya, menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi napas utama kampung ini. “Limbah rajut dan botol plastik kami olah kembali menjadi bahan baku maupun produk baru. Dengan begitu, warga mendapat tambahan penghasilan sekaligus mengurangi sampah,” katanya.

Kisah inilah yang dipelajari sekitar 15 pelajar SMA dari Kota Bandung yang mengisi liburan mereka sebagai Green Warrior dalam program GreenBus Pertamina. Mereka belajar merajut bersama para perajin, memilah limbah rajut, hingga melihat langsung proses daur ulang sisa benang menjadi produk bernilai.

“Yang paling berkesan buat aku adalah belajar memilah sampah dan melihat bahwa limbah masih bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Yasmin Hasari, siswi SMAN 12 Bandung.

 Penyandang disabilitas tuna daksa sekaligus perajut kain, Elis Juarsih (47) mengajarkan cara membuat gelang dengan merajut benang kepada anggota Green Warriors diacara Green Bus Pertamina 2026, rabu (8/7) di Kampoeng Radjoet Binong. <b>(Pertamina)</b> Penyandang disabilitas tuna daksa sekaligus perajut kain, Elis Juarsih (47) mengajarkan cara membuat gelang dengan merajut benang kepada anggota Green Warriors diacara Green Bus Pertamina 2026, rabu (8/7) di Kampoeng Radjoet Binong. (Pertamina)

Asya dari sekolah yang sama mengaku senang dapat belajar langsung dari para perajin. “Ternyata merajut itu menyenangkan dan banyak sekali pembelajaran baru yang bisa didapat di sini,” katanya.

Sementara itu, Steven dari SMAN 5 Bandung menilai pengalaman merajut mengajarkannya tentang kesabaran dan kepedulian terhadap lingkungan. “Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah sesuai jenisnya,” tuturnya.

Melalui pengalaman tersebut, GreenBus Pertamina tidak hanya menghadirkan pembelajaran tentang lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai kesetaraan dan kepedulian sosial kepada generasi muda melalui teladan nyata dari para perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menambahkan bahwa keberhasilan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan tidak hanya diukur dari manfaat ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu membuka kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Melalui pemberdayaan perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati, kami ingin membuktikan bahwa inklusivitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan serta menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Baron.

Baron berharap program ini dapat terus berkembang sebagai ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

“Ketika masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkarya dan mandiri, maka di saat yang sama kita juga sedang membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan," tambah Baron.

x|close