Rupiah Melemah ke Rp17.105 per Dolar AS, Airlangga: Mata Uang Lain Juga

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 19:40
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026). ANTARA/Fathur Rochman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026). ANTARA/Fathur Rochman (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi pada penutupan perdagangan Selasa sore. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga mata uang dari berbagai negara lain.

"Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain juga demikian," kata Airlangga singkat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Pada perdagangan hari itu, rupiah tercatat melemah sebesar 70 poin atau sekitar 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar ini turut dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, kondisi tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Rupiah Kamis Dibuka Menguat Rp16.982 per Dolar AS, Didorong Surplus Perdagangan RI

“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” ucapnya.

Situasi semakin kompleks setelah Iran menolak usulan gencatan senjata sementara dari Amerika Serikat, yang juga mencakup pembukaan bertahap Selat Hormuz. Sebagai gantinya, Iran menginginkan penghentian konflik secara permanen disertai jaminan keamanan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerugian yang dialami.

Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump yang mempertegas tenggat waktu bagi Iran.

Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melemah, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu

“Trump menegaskan kembali bahwa tenggat waktu hari Selasa itu tegas dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ia juga mengatakan Iran dapat disingkirkan dengan cepat, menggarisbawahi meningkatnya risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Ibrahim.

Ketegangan tersebut dinilai telah mengganggu distribusi energi global serta mendorong kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi dan mempersulit arah kebijakan moneter.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat, sebagai indikator penting arah suku bunga bank sentral AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah ke posisi Rp17.092 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.

(Sumber: Antara)

x|close