Rupiah Melemah ke Rp17.275 per Dolar AS, Dipicu Mandeknya Negosiasi AS–Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Apr 2026, 11:05
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)


Ntvnews.id
, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi melemah 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.275 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.243 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan berhenti atau kemandekan negosiasi perdamaian antara AS dengan Iran menekan nilai tukar rupiah.

“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ucapnya.

Iran disebut menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pekan ini, namun sebagian besar pihak di Washington skeptis terhadap proposal tersebut karena melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir di Teheran.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah Rp17.223 per Dolar AS, Terseret Sentimen Negatif Timur Tengah

Presiden AS Donald Trump sendiri tak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Sumber-sumber Iran mengungkapkan proposal Teheran menghindari pembahasan program nuklir hingga permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.

Mengutip Anadolu, harga komoditas juga menunjukkan tren beragam di tengah ketegangan akibat konflik AS dengan Iran yang belum terselesaikan, terutama akibat penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu ekspektasi inflasi dan keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral AS.

Ketidakpastian atas negosiasi perdamaian, kekhawatiran pasokan, dan biaya energi yang terus tinggi memicu perkiraan peningkatan inflasi global, yang berimplikasi terhadap kemungkinan The Fed dalam mengadopsi pendekatan lebih hati-hati ke depannya.

Sentimen lain berasal dari keputusan Uni Emirat Arab (UAE) menarik diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+. Keputusan tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Mei 2026.

“Semalam, UAE mengumumkan keputusannya untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, yang menambah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Josua.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.200-Rp17.325 per dolar AS. (Sumber:Antara)

x|close