OJK Minta Industri Jasa Keuangan Terus Waspadai Risiko Konflik Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 14:22
thumbnail-author
Satria Angkasa
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memaparkan materi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 secara daring di Jakarta, Jumat 9 Januari 2026. (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memaparkan materi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 secara daring di Jakarta, Jumat 9 Januari 2026. (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau pelaku sektor jasa keuangan untuk terus mencermati serta melakukan pemantauan secara intensif terhadap risiko pasar, likuiditas, dan kredit, sekaligus merespons dinamika geopolitik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan bahwa langkah kewaspadaan tersebut tetap perlu dilakukan meskipun dalam jangka pendek dampak konflik kedua negara belum terlihat signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

“Sekalipun demikian, kita tentu juga harus mencermati perkembangan dan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah panjang,” kata Mahendra dalam konferensi pers RDKB Desember 2025 yang digelar secara daring di Jakarta, Jumat.

Secara umum, Mahendra menyampaikan bahwa para pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan, masih terus memantau perkembangan konflik antara AS dan Venezuela, serta menilai potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global.

Baca Juga: Buka Perdagangan BEI 2026, OJK Siapkan Aturan Untuk Influencer Keuangan

Ia mengingatkan bahwa risiko geopolitik, bahkan sebelum meningkatnya tensi antara AS dan Venezuela, telah memicu ketidakpastian yang tinggi terhadap proses pertumbuhan serta stabilitas ekonomi dan keuangan global.

“Setelah Ukraina oleh Rusia, Palestina atau Gaza oleh Israel, kini Venezuela oleh AS. Tentu preseden-preseden ini menimbulkan kekhawatiran ke depan untuk hal-hal serupa, karena ternyata bisa dilakukan tanpa konsekuensi yang memberatkan secara real pada negara yang melakukan pelanggaran itu,” kata Mahendra.

Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin menantang mengingat lembaga-lembaga multilateral dan internasional telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 tidak mencapai 3 persen, yang menjadi tingkat pertumbuhan terendah sejak pandemi COVID-19.

Sejauh ini, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga, sebagaimana tercermin dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang dilaksanakan pada 24 Desember 2025.

Berdasarkan rilis data global, Mahendra menjelaskan bahwa perekonomian dunia menunjukkan tanda-tanda perbaikan meskipun kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi. Aktivitas manufaktur global juga tercatat tetap berada di zona ekspansi dengan laju pertumbuhan yang termoderasi.

Baca Juga: OJK Perketat Aturan, Paylater Hanya untuk Bank dan Multifinance

Di Amerika Serikat, perekonomian dinilai relatif solid dengan produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga 2025 tumbuh sebesar 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya serta melampaui konsensus pasar. Sementara itu, di Tiongkok, perlambatan ekonomi masih berlanjut dengan konsumsi rumah tangga yang belum pulih sepenuhnya.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah bank sentral kembali menempuh kebijakan yang bersifat akomodatif. The Federal Reserve (The Fed) memangkas Federal Funds Rate (FFR), sementara Bank of England pada Desember 2025 juga kembali menurunkan suku bunga acuannya.

Di sisi lain, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, seiring tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang. Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global.

Di tengah perkembangan global tersebut, perekonomian domestik Indonesia pada Desember 2025 mencatatkan peningkatan inflasi inti, sektor manufaktur yang masih berada dalam fase ekspansi, serta kinerja eksternal yang tetap terjaga dengan neraca perdagangan mencatatkan surplus.

 

(Sumber : Antara)

x|close