Ntvnews.id, Shanghai - Huawei memperkenalkan solusi grid-interactive AIDC dalam ajang HUAWEI CONNECT 2026 yang berlangsung di Shanghai. Solusi tersebut menawarkan pendekatan baru dalam pembangunan infrastruktur AI dengan fokus pada peningkatan efisiensi pemrosesan token per watt.
Pengenalan solusi itu dilakukan dalam HUAWEI AIDC Facility Summit yang menjadi bagian dari rangkaian HUAWEI CONNECT 2026.
Hou Jinlong, Director of the Board of Huawei sekaligus President of Huawei Digital Power, menjelaskan empat pendekatan inovasi arsitektur dan desain sistem untuk menjawab tantangan pembangunan AIDC. Tantangan tersebut mencakup penyediaan dan kualitas daya, distribusi listrik ke rak, pengelolaan panas, hingga proses konstruksi.
Pendekatan pertama berupa pengembangan arsitektur kelistrikan yang dipadukan dengan teknologi liquid cooling. Kombinasi ini ditujukan untuk menjaga kestabilan pasokan listrik sekaligus meningkatkan efektivitas pembuangan panas agar sistem lebih andal dan efisien.
Kedua, Huawei mengembangkan sistem penyimpanan energi hibrida berlapis yang dapat menyerap perubahan daya lokal. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas daya di AIDC serta mengurangi pengaruh fluktuasi terhadap jaringan listrik.
Ketiga, integrasi sistem kelistrikan dan komputasi, termasuk hubungan antara pasokan serta konsumsi energi, akan mengubah AIDC dari beban listrik yang kaku menjadi bagian dari sistem kelistrikan generasi baru.
Baca Juga: Huawei Cloud Alami Gangguan Global, Pengguna di Indonesia Ikut Terdampak
Sementara itu, pendekatan keempat berfokus pada inovasi konstruksi melalui metode modular, prefabrikasi, dan berbasis produk. Metode tersebut dinilai dapat mempercepat proses pembangunan secara signifikan.
Hou menekankan bahwa kemampuan mengoptimalkan jumlah token yang diproses setiap watt dan menekan biaya per token akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing pusat komputasi.
Huawei Perkenalkan Solusi Grid-Interactive AIDC
Vice President Huawei Digital Power Bob He mengatakan peningkatan penggunaan energi terbarukan membuat jaringan listrik semakin dipengaruhi karakteristik powerelectronics. Pada saat yang sama, beban kerja AI dapat berubah secara cepat dan dalam skala besar.
Menurut He, kondisi tersebut membuat sistem energi dan komputasi perlu diintegrasikan secara lebih erat, bukan lagi berjalan secara terpisah.
“Melalui inovasi "3+1", Huawei menghadirkan solusi grid-interactive AIDC yang memadukan keandalan tinggi, efisiensi energi, kecepatan implementasi, dan kemampuan beradaptasi dengan jaringan listrik untuk memaksimalkan jumlah token yang diproses per watt.”
Dalam sistem kelistrikan, Huawei mengusulkan arsitektur catu daya MIMO untuk memenuhi kebutuhan pusat komputasi generasi baru.
Huawei juga meluncurkan grid-interactive AIDC 1.0 yang menggabungkan UPS dengan dukungan terhadap stabilitas jaringan listrik, baterai litium pintar, serta sistem penyimpanan energi grid-forming.
Baca Juga: Airlangga Rayu Huawei dan ByteDance Investasi Teknologi di Indonesia
Dengan sistem tersebut, AIDC dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi jaringan listrik sekaligus membantu mengurangi dampak perubahan beban kerja AI. Huawei turut memperkenalkan sistem liquid cooling berbasis AI yang mampu memprediksi kondisi working fluid dan mendukung pemeliharaan prediktif.
He menyebut keunggulan Huawei berada pada kemampuan terpadu di bidang energi serta teknologi AI dengan rangkaian lengkap atau full-stack.
Sinergi Komputasi dan Listrik untuk Infrastruktur AI
Pertumbuhan AI yang pesat meningkatkan kebutuhan pemrosesan token dan mendorong tuntutan baru terhadap infrastruktur AI.
Chief Expert Huawei Computing Strategy Planning Xia Qin menjelaskan bahwa AIDC kini mengarah pada arsitektur terintegrasi yang menggabungkan komputasi, jaringan, dan penyimpanan, dengan energi sebagai fondasi utama.
Sistem energi yang andal, efisien, dan cepat diterapkan dinilai dapat membantu klaster komputasi AI berskala besar beroperasi secara stabil. Infrastruktur tersebut juga mendukung proses pelatihan dan inferensi dalam skala besar pada era agentic AI.
Berbeda dari pusat data konvensional yang hanya memiliki hubungan terbatas dengan jaringan listrik, beban kerja AI dapat berubah dengan frekuensi tinggi. Perubahan tersebut berpotensi memicu gangguan pada sistem kelistrikan, seperti pemadaman listrik dan osilasi wideband yang tidak stabil.
Baca Juga: Bocoran Huawei Mate 90 Pro Max, Dibekali Kamera Telefoto Ganda dengan Zoom Optik 10x
Josh Chen, Founder & Chairman VNET Group, mengatakan sumber listrik, kampus, dan bangunan dapat dirancang ulang agar saling terhubung dan mendukung. Integrasi itu mencakup koordinasi antar sumber listrik, penjadwalan energi di dalam kampus, hingga penyediaan listrik DC untuk bangunan.
Menurut Chen, pendekatan tersebut dapat membentuk sistem kelistrikan baru yang terhubung langsung dengan sumber energi hijau dan microgrid aktif. Sistem itu juga ditujukan untuk menjaga pasokan listrik yang stabil dan andal bagi AIDC dengan kapasitas hingga tingkat GW.
Dalam kesempatan yang sama, General Manager Intelligent Computing Center, SenseCore Business Group di SenseTime, Lin Hai, memaparkan perkembangan efisiensi komputasi AI SenseTime yang bergerak dari PUE menuju TPW.
SenseCore mendorong perubahan pengelolaan efisiensi di IDC. Jika sebelumnya pengukuran berfokus pada power usage effectiveness (PUE), pendekatan baru menggunakan pengukuran terpadu yang berorientasi pada token per watt.
Pengukuran tersebut menghubungkan konsumsi listrik dengan jumlah token yang dihasilkan, mulai dari pembangkit dan jaringan listrik, layanan rak IDC, cloud computing, hingga layanan model.
Baca Juga: OpenAI Incar Kemitraan dengan SK Hynix dan Samsung untuk Bangun Infrastruktur AI
Lin mengatakan metrik tersebut menggambarkan efisiensi inti dalam proses produksi AI. Melalui optimalisasi terpadu, SenseCore disebut berhasil meningkatkan TPW sebesar 80%.
Pada HUAWEI CONNECT 2026, Huawei turut memamerkan solusi grid-interactive AIDC dan solusi inferensi AI terintegrasi. Keduanya ditujukan untuk membangun fondasi komputasi yang andal, hemat energi, serta cepat diterapkan bagi infrastruktur klaster AI.
(Sumber: Antara)
Hou Jinlong, Director of the Board of Huawei, President of Huawei Digital Power (Antara)