Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons perkembangan situasi di Selat Hormuz yang kembali memanas di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Airlangga mengatakan pemerintah melakukan pemantauan secara berkala terhadap dinamika yang terjadi, termasuk dampaknya terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia.
"Ya kan kita monitor aja kan, setiap minggu up and down," ucap Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Senin 13 Juli 2026.
Menurutnya, salah satu aspek yang menjadi perhatian pemerintah adalah fluktuasi harga minyak dunia yang sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Menko Airlangga: Pemerintah pastikan bunga KUR tetap 6 persen (Antara)
Baca juga: Iran dan Oman Sepakat Lanjutkan Dialog soal Masa Depan Selat Hormuz
"Harga minyak tergantung selat," jelasnya.
Sebelumnya, Militer Iran meminta AS untuk mematuhi perjanjian damai yang telah disepakati antara Teheran dan Washington pada Juni lalu, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, mengatakan kepada televisi nasional Iran IRIB pada Minggu bahwa campur tangan AS dalam upaya membentuk apa yang ia sebut sebagai "rute ilegal" yang melintasi Selat Hormuz telah memicu ketidakamanan di kawasan tersebut.
Akraminia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran akan tetap bertindak tegas dalam menjaga hak-hak rakyat Iran di Selat Hormuz.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa militer Iran secara berkala terus memperbarui daftar sasaran tembaknya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan serta instalasi militer milik AS di sejumlah negara kawasan Teluk.
Baca juga: Selat Hormuz Memanas, Militer Iran Minta AS Patuhi Kesepakatan Damai
Di sisi lain, AS melakukan gelombang ketiga serangan dengan menargetkan instalasi radar, rudal, dan drone milik Iran di wilayah selatan negara itu.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Iran yang menembaki kapal dagang di Selat Hormuz serta menutup jalur pelayaran strategis itu hingga waktu yang belum ditentukan. Dalam insiden tersebut, satu orang dilaporkan hilang.
Ilustrasi - Selat Hormuz (Antara)