Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengkaji kemungkinan kenaikan tarif TransJakarta setelah lebih dari dua dekade tidak mengalami perubahan.
Meski wacana ini mencuat, Pemprov menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan resmi terkait penyesuaian tarif pada tahun 2026. Tarif TransJakarta diketahui masih bertahan di angka Rp3.500 sejak tahun 2005.
Staf Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Cyril Raoul Hakim alias Chico Hakim, menjelaskan bahwa kajian yang dilakukan pihak TransJakarta merupakan hal wajar mengingat biaya operasional transportasi publik terus meningkat.
"Sementara biaya operasional terus meningkat karena inflasi, harga energi, pemeliharaan armada (termasuk bus listrik), dan ekspansi layanan," ucapnya dalam keterangan tertulis, Senin, 27 April 2026.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Gubernur dan DPRD melalui pembahasan APBD.
Pemprov DKI menegaskan bahwa kebijakan tarif transportasi umum tidak bisa diputuskan secara terburu-buru. Pemerintah masih mempertimbangkan daya beli masyarakat serta kondisi ekonomi saat ini. Karena itu, hingga sekarang belum ada kepastian kenaikan tarif TransJakarta di tahun 2026.
Baca Juga: Bus TransJakarta Seruduk Motor di Jakarta Utara, 1 Penumpang Tewas di Lokasi
Chico Hakim (NTVNews.id/ Adiansyah)
Saat ini layanan TransJakarta masih mendapat subsidi besar dari APBD DKI Jakarta. Pada tahun 2026, nilai subsidi diperkirakan mencapai Rp3,7 triliun.
"Prioritas tetap menjaga layanan berkualitas dengan subsidi yang efisien (saat ini subsidi TransJakarta di APBD 2026 sekitar Rp3,7 triliun)," ungkapnya.
Beberapa catatan penting dalam kajian tarif, yakni pendapatan tiket hanya menutup sekitar 14 persen biaya operasional. Sisanya ditanggung APBD dari pajak masyarakat. Subsidi per penumpang mencapai Rp9.000-Rp10.000 per perjalanan. Total biaya operasional per trip sekitar Rp13.000.
Meski tarif belum berubah, layanan TransJakarta terus berkembang. Jumlah penumpang pada 2025 bahkan mencetak rekor hingga 413 juta pengguna.
Selain itu, armada kini semakin modern dengan penambahan bus listrik, integrasi rute, serta perluasan layanan ke kawasan penyangga Jakarta.
"UMP Jakarta naik hampir 7 kali lipat sejak 2005 (dari sekitar Rp800 ribu menjadi Rp5,73 juta di 2026), sementara tarif flat. Volume penumpang terus naik (rekor 413 juta di 2025), armada lebih modern, dan rute semakin luas," terangnya.
"TransJakarta adalah public service obligation untuk mengurai kemacetan dan polusi, bukan sekadar bisnis. Kami terus mendengar aspirasi warga dan setiap keputusan akan dikomunikasikan terbuka," tambah Chico.
Bus Transjakarta. (Antara)