Tekanan Biaya Avtur dan Permintaan Lesu, Maskapai Thailand Pangkas Puluhan Penerbangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Apr 2026, 07:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
ilustrasi pesawat. ilustrasi pesawat. (Pixabay)

Ntvnews.id, Bangkok - Maskapai nasional Thailand, Thai Airways, berencana mengurangi sekaligus membatalkan lebih dari 46 penerbangan sepanjang Mei 2026. Penyesuaian ini mencakup rute domestik maupun internasional sebagai bagian dari strategi operasional.

CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diambil untuk menyesuaikan operasional dengan kondisi terkini, bukan sebagai bentuk penghentian rute secara permanen.

"Maskapai tetap beroperasi seperti biasa dan layanan di semua rute tetap tersedia bagi penumpang," kata Chai dikutip dari The Nation, Senin, 27 April 2026.

Ia mengungkapkan, lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang berdampak pada penurunan minat perjalanan. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, banyak calon penumpang memilih menunda perjalanan sehingga tingkat pemesanan di sejumlah rute, khususnya mendekati jadwal keberangkatan, masih tergolong rendah.

Sebagai respons, maskapai melakukan penyesuaian jadwal demi meningkatkan efisiensi operasional. Penerbangan dengan tingkat keterisian rendah dikurangi, sementara beberapa layanan digabungkan. Meski begitu, penumpang tetap memiliki opsi perjalanan serta fleksibilitas untuk mengatur ulang jadwal.

Baca Juga: Tekan Harga Tiket, PPN Pesawat Kelas Ekonomi Ditanggung Pemerintah 60 Hari

"Prinsip kami adalah menyeimbangkan kelayakan bisnis dengan kenyamanan penumpang. Langkah pertama adalah mengganti pesawat berkapasitas besar dengan yang lebih kecil," kata dia.

"Jika diperlukan, frekuensi penerbangan akan dikurangi, misalnya dari setiap hari menjadi lima kali seminggu atau menggabungkan penerbangan dengan tingkat pemesanan rendah agar tidak membakar bahan bakar secara sia-sia. Pembatalan penerbangan adalah opsi terakhir," kata Chai.

Secara keseluruhan, pengurangan ini hanya mencakup sekitar 4–5 persen dari total jadwal penerbangan pada Mei 2026 dan bersifat sementara. Perusahaan juga telah membentuk tim khusus lintas divisi untuk memantau kondisi harian agar penyesuaian dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Maskapai memastikan bahwa jika permintaan kembali meningkat, terutama saat periode ramai, jadwal penerbangan akan segera dikembalikan seperti semula. Kenaikan harga bahan bakar menjadi faktor dominan dalam kebijakan ini.

Ilustrasi Pesawat <b>(Pixabay)</b> Ilustrasi Pesawat (Pixabay)

Sebelum akhir Februari 2026, harga bahan bakar aviasi berada di kisaran USD 90 per barel, lalu melonjak hingga sekitar USD 240 per barel atau hampir tiga kali lipat. Meskipun saat ini mulai mengalami penurunan, rata-rata harga masih sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Situasi tersebut memaksa maskapai memperketat efisiensi biaya, termasuk menyesuaikan tarif tiket dengan beban operasional. Chai menambahkan, kinerja operasional Thai Airways pada kuartal pertama 2026 masih relatif stabil.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap industri penerbangan global apabila berlangsung berkepanjangan. Thai Airways menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi dan menyesuaikan strategi demi menjaga keberlangsungan bisnis ke depan.

x|close