BMKG dan Kemenhut Perkuat Pencegahan Karhutla dengan Sensor Kekeringan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 08:20
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberikan keterangan terkait penandatanganan nota kesepahaman bersama Kementerian Kehutanan di Gedung D Command Center Multi-Hazards Early Warning System (MHEWS) Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu 22 April 2026. ANTARA/HO-BMKG Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberikan keterangan terkait penandatanganan nota kesepahaman bersama Kementerian Kehutanan di Gedung D Command Center Multi-Hazards Early Warning System (MHEWS) Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu 22 April 2026. ANTARA/HO-BMKG (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kerja sama antara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencakup pemasangan alat sensor untuk memantau indikator kekeringan di lahan yang berpotensi terbakar.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa penggunaan sensor ini merupakan bagian dari integrasi data dan sistem prediksi guna memperkuat perlindungan hutan dari ancaman kekeringan ekstrem, sekaligus menjadi langkah pencegahan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kami sepakat untuk menguatkan perlindungan hutan melalui upaya preventif serta kuratif. Telah dibahas beberapa kerja sama potensial mulai dari pemasangan alat sensor hingga integrasi data untuk upaya pencegahan dan pengendalian karhutla,” kata Faisal usai penandatanganan nota kesepahaman bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Baca Juga: Kemenhut dan BMKG Perkuat Kolaborasi Cegah Karhutla Berbasis Sains

Penguatan teknologi tersebut dilakukan seiring prediksi BMKG bahwa Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih kering akibat fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat, yang diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun 2026 dengan peluang 70–90 persen.

BMKG juga mencatat hingga Selasa, 21 April 2026, jumlah titik api di Indonesia telah mencapai 1.777 titik, dengan konsentrasi tertinggi di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Selain mengandalkan sensor, upaya pencegahan juga diperkuat melalui intervensi atmosfer berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Metode ini dilakukan dengan menyemai garam atau natrium klorida (NaCl) ke awan potensial menggunakan pesawat untuk meningkatkan peluang hujan.

"Saat ini OMC tengah dilakukan di Riau dan Kalimantan Barat untuk meningkatkan tinggi muka air tanah gambut. Tujuannya agar lahan tersebut memiliki ketahanan dan tidak mudah terbakar saat curah hujan menurun," tuturnya.

Baca Juga: BMKG Waspadai Potensi El Nino 2026, Risiko Kekeringan dan Karhutla Meningkat

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menilai peran BMKG sangat penting dalam upaya perlindungan hutan, terutama melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Kejadian karhutla tahun ini berpotensi meningkat seiring dengan adanya El Nino. Maka dari itu, intervensi melalui OMC dan ketepatan data sangat menentukan apakah karhutla ini akan bisa ditekan, termasuk penegakan hukum dan disiplin masyarakat kita untuk tidak membakar lahan,” kata dia.

(Sumber: Antara)

x|close