Kemenhut dan BMKG Perkuat Kolaborasi Cegah Karhutla Berbasis Sains

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Apr 2026, 23:02
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan penandatanganan MoU bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Rabu (22/4/2026). ANTARA/HO-Kemenhut RI. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan penandatanganan MoU bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Rabu (22/4/2026). ANTARA/HO-Kemenhut RI. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta -  Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjalin kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) guna memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis sains.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap potensi kemunculan fenomena El Nino pada 2026 yang diperkirakan datang lebih awal pada semester kedua tahun ini, yakni sekitar Juni hingga Juli, dengan intensitas lemah hingga moderat.

Kondisi tersebut berpotensi memicu musim kemarau yang lebih cepat dan lebih kering.

“Untuk tahun ini sudah disampaikan bahwa kemarau akan datang lebih cepat dari tahun lalu, dan akan berakhir lebih lambat, kemudian El Nino lemah sampai moderat artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Baca Juga: 5 Tips Persiapan Mobil Hadapi El Nino: Aman Berkendara di Cuaca Ekstrem

Raja Antoni menjelaskan bahwa kerja sama dengan BMKG mencakup integrasi data meteorologi, klimatologi, dan kehutanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelaksanaan modifikasi cuaca serta analisis risiko berbasis sains.

Ia juga menegaskan bahwa upaya tersebut selaras dengan tren penurunan luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015, luas karhutla tercatat menurun menjadi 1,6 juta hektare pada 2019, kemudian 1,1 juta hektare pada 2023, hingga sekitar 350 ribu hektare pada tahun lalu.

Menurutnya, BMKG memiliki peran krusial dalam menekan angka karhutla, terutama melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta kemampuan prediksi cuaca yang lebih presisi.

“BMKG memerankan peran yang sangat penting untuk menurunkan angka karhutla. Dengan tadi memprediksi cuaca, presisi dengan lebih prediktif, termasuk prevensi atau pencegahan. Mencegah terjadinya karhutla itu jauh lebih baik ketimbang memadamkan ketika apinya sudah berkobar,” kata Raja Antoni.

Baca Juga: Pemerintah Dorong Daerah Rawan Karhutla Segera Tetapkan Status Siaga

Selain itu, pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas instansi dalam upaya pencegahan, termasuk melakukan pemantauan tinggi muka air tanah sebagai indikator penting, khususnya di wilayah gambut.

“OMC yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum apinya menyala. Sekarang sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita (lakukan) adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut. Kalau cadangan airnya cukup insya Allah tidak akan terjadi kebakaran,” jelas Menhut Raja Antoni.

(Sumber: Antara)

x|close