Ntvnews.id, Jakarta - Hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 langsung diwarnai berbagai temuan kecurangan. Sejumlah modus yang terungkap menunjukkan upaya sistematis dari peserta, mulai dari penggunaan teknologi hingga praktik perjokian yang terorganisir.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa sejak awal panitia sebenarnya telah mengantisipasi potensi pelanggaran. Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) bahkan sudah memetakan sebanyak 2.940 data anomali peserta sebelum ujian berlangsung.
"Nah, pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB, kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan oleh peserta UTBK di beberapa pusat UTBK," kata Edward dalam Konferensi Pers di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: Jadwal Pekan 33 Liga Spanyol: Madrid vs Alaves, Barca vs Celta Vigo
Berbagai bentuk kecurangan langsung teridentifikasi pada sesi pertama pelaksanaan UTBK. Polanya beragam, namun menunjukkan adanya upaya yang dirancang secara sengaja.
Perjokian dengan Identitas Ganda
Kasus perjokian menjadi temuan dominan di sejumlah lokasi, seperti Universitas Sulawesi Barat, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Negeri Malang. Modus yang digunakan adalah memanfaatkan satu orang untuk mengikuti ujian dengan dua identitas berbeda, bahkan lintas tahun.
"Juga masih di pusat UTBK Unsulbar, itu ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi ini sengaja dilihat, jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di tahun 2025-2026 untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama, ikut ujian 2025-2026 untuk dua nama. Bisa dipahami ya? Jadi itu sudah pasti merupakan joki yang mengganti," kata Edward.
Manipulasi Foto yang Tetap Terbongkar
Upaya lain dilakukan dengan memodifikasi foto peserta untuk menyamarkan identitas joki. Praktik ini ditemukan di UPN Veteran Jawa Timur. Meski terlihat berbeda secara visual, sistem pengenalan wajah tetap mampu mendeteksi kesamaan identitas.
"Hal yang sama juga di UPN Jawa Timur, UPN Surabaya itu jokinya fotonya saja dimodifikasi sedikit-sedikitlah. Kalau tahun-tahun kemarin jilbabnya agak turun ke bawah, tahun ini jilbabnya agak ke atas gitu kan, tapi kan tidak merubah orangnya sebenernya. Dan melalui face recognition yang kita lakukan itu tetap saja bisa terlacak," ungkap Edward.
Baca Juga: Imam Masjid di Rangkapan Jaya Depok Meninggal saat Salat Subuh
Perangkat Elektronik Tersembunyi
Temuan mencolok juga terjadi di Universitas Diponegoro. Seorang peserta diketahui menggunakan alat bantu dengar yang ditanam di dalam telinga untuk menerima bantuan dari luar.
"Yang berikut juga ada kecurangan di pusat UTBK di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berupa untuk menggunakan alat bantu dengar. Alat bantu dengarnya sampai masuk ke dalam telinga. Jadi kita harus bawa, oleh panitia pusat UTBK ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas ini," tutur Edward.
Indikasi Sindikat dan Iming-iming Kelulusan
Di lokasi lain, tepatnya di Universitas Sulawesi Barat, panitia menemukan indikasi adanya sindikat yang terlibat dalam praktik kecurangan. Sindikat ini diduga aktif menawarkan bantuan kepada calon peserta dengan berbagai iming-iming.
"Terima kasih laporan dari Unsulbar. Jadi informasi dari Unsulbar bisa digarisbawahi bahwasanya ditemukan adanya indikasi sindikat kecurangan yang memang berusaha untuk mengiming-imingi calon peserta agar supaya bisa mau melakukan ini," ucap Edward.
UTBK 2025 (HO-Humas UPNVJ)