Guru Besar FK UI Ungkap Diabetes Bisa ‘Sembuh’ Tanpa Obat, Kuncinya dengan Lakukan Ini

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 13:17
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., (NTVNews.id: DEDI)

Ntvnews.id, Jakarta - Harapan untuk mengendalikan diabetes tanpa ketergantungan obat ternyata bukan hal yang mustahil. Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., mengungkap bahwa kondisi diabetes dalam beberapa kasus dapat kembali normal, selama pasien menjalani perubahan gaya hidup secara disiplin dan konsisten.

Ia menjelaskan, kunci utama dalam pengendalian diabetes terletak pada perbaikan kondisi tubuh, khususnya dalam menurunkan kadar lemak berlebih yang memicu inflamasi. Inflamasi ini kemudian menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika insulin tidak lagi bekerja optimal dalam mengatur kadar gula darah.

Ketika resistensi insulin terjadi, tubuh tidak mampu mengolah kelebihan gula dengan baik. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan berisiko berkembang menjadi diabetes. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi berat badan dan lemak tubuh.

“Jadi programnya kalau di Taiwan sudah berhasil, dia masuk ke camp, dikasih arahan makan berapa kalori, olahraganya ini dan sebagainya, dalam waktu tiga bulan semuanya menjadi normal lagi. Jadi obat-obat yang sudah diberikan di-close, tidak usah pakai obat dan dimonitoring terus,” ujar guru besar FK UI tersebut dalam acara yang dilaksanakan Kalbe Farma pada Jumat, 17 April 2026.

Baca Juga: Kasus Diabetes di Indonesia Terus Meningkat, Kalbe Dorong Penanganan Terpadu dan Deteksi Dini

Program yang dimaksud melibatkan pengaturan pola makan dengan batasan kalori yang ketat, serta aktivitas fisik yang terukur. Dalam praktiknya, asupan kalori dikendalikan sesuai kebutuhan tubuh, bahkan bisa ditekan hingga setengah dari kebutuhan harian untuk membantu mempercepat penurunan berat badan.

Dengan pendekatan tersebut, pasien tidak hanya mengalami penurunan kadar gula darah, tetapi juga dapat menghentikan penggunaan obat, selama kondisi tetap terkontrol. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan ini sangat bergantung pada konsistensi menjalani pola hidup sehat.

Jika pasien kembali ke kebiasaan lama, seperti pola makan berlebih dan kurang aktivitas fisik, maka risiko kenaikan gula darah akan kembali muncul.

“Nah itu bisa berulang sampai dua tahun, gulanya tidak menembus lagi. Nah sayang, bukan sayangnya sih, ini yang menjadi catatan. Kalau yang bersangkutan merubah lagi perilakunya, ya siap-siap gulanya akan naik lagi,” jelasnya.

Baca Juga: Kemlu: Izin Lintas Pesawat Militer AS di Langit Indonesia Masih Dikaji

Ia menekankan bahwa diabetes bukan sekadar penyakit yang harus diobati, tetapi kondisi yang harus dikelola dalam jangka panjang. Perubahan gaya hidup menjadi fondasi utama dalam pengendalian penyakit ini, termasuk menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta mengontrol berat badan.

Selain itu, pemahaman terhadap asupan kalori juga menjadi hal penting yang sering diabaikan. Banyak orang tidak menyadari bahwa konsumsi makanan dan minuman sehari-hari, termasuk camilan dan minuman manis, dapat dengan cepat melebihi kebutuhan kalori harian.

Karena itu, kesadaran untuk mengatur pola konsumsi menjadi langkah penting dalam mencegah sekaligus mengendalikan diabetes. Dengan pendekatan yang tepat dan disiplin yang tinggi, peluang untuk mengontrol bahkan menormalkan kondisi diabetes tetap terbuka.

x|close