Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah “membuka Selat Hormuz secara permanen”, sebuah langkah yang menurutnya dilakukan tidak hanya untuk kepentingan global, tetapi juga secara khusus untuk China. Pernyataan ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Rabu, Trump menyebut bahwa “China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen”. Ia menambahkan, “saya melakukan ini untuk mereka juga dan untuk Dunia.”
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah keputusan dramatis pemerintah AS untuk memblokade jalur pelayaran strategis itu. Sebelumnya, pada Minggu, Trump mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul kegagalan perundingan damai dengan Iran yang dimediasi Pakistan.
Baca Juga: Kejati Aceh Periksa 67 Saksi Kasus Korupsi Beasiswa Rp14 Miliar
Ketegangan meningkat ketika pada Selasa, Komando Pusat AS melaporkan bahwa kapal perang Amerika secara efektif telah menghentikan seluruh perdagangan Iran melalui selat tersebut.
Selain mengklaim keberhasilan membuka kembali jalur vital itu, Trump juga menyampaikan bahwa China telah memberikan komitmen terkait Iran. Ia menyebut Beijing telah “setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran”. Bahkan, Trump menambahkan bahwa Presiden China Xi Jinping “akan memberi saya pelukan hangat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu”.
Rencana kunjungan kenegaraan Trump ke China dijadwalkan berlangsung pada 14 Mei, sementara Xi Jinping disebut akan melakukan kunjungan balasan ke Washington dalam waktu mendatang.
Meski demikian, hingga kini pemerintah China belum memberikan tanggapan resmi atas klaim terbaru Trump mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz maupun kesepakatan terkait Iran. Sebelumnya, Beijing telah berulang kali membantah tuduhan adanya dukungan militer kepada Teheran.
Baca Juga: KPU Tegaskan Dokumen Pendaftaran Parpol Harus Ditandatangani Ketua Umum dan Sekjen
Pada Selasa, China bahkan menyebut tudingan Trump soal pengiriman senjata ke Iran sebagai tindakan yang “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”. Pernyataan itu juga merujuk pada langkah AS yang melakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran sendiri sebelumnya mengambil langkah menutup Selat Hormuz bagi “kapal musuh” sebagai respons terhadap kampanye pengeboman oleh AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Sejak saat itu, Teheran menuntut pengakuan atas “kedaulatannya” di jalur perairan strategis tersebut, termasuk hak untuk memberlakukan bea masuk.
Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris "Stena Impero" di dekat Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)