Ntvnews.id, Washington D.C - Kebijakan perang yang diambil Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari justru dinilai berpotensi menjadi beban besar bagi masyarakat AS, khususnya para pembayar pajak.
Seorang akademisi dari Harvard University menilai biaya konflik tersebut dapat melampaui angka resmi dan berisiko memperparah utang nasional Amerika Serikat yang sudah tinggi.
Dalam penelitiannya, pakar kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, memperkirakan total biaya perang AS melawan Iran bisa mencapai sekitar US$1 triliun atau setara Rp17.155 triliun, jauh lebih besar dibanding estimasi awal Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
"Saya yakin kita akan mencapai angka $1 triliun (sekitar Rp17.155 triliun) untuk perang melawan Iran," kata Bilmes dikutip dari CNBC, Kamis, 16 April 2026.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Milik Bersama, 97% Keuntungan Dibagikan untuk Masyarakat Desa
Berdasarkan laporan Pentagon kepada Kongres, enam hari pertama operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari telah menghabiskan sekitar US$11,3 miliar atau setara Rp194 triliun.
Dalam riset yang dirilis dua hari sebelum pengumuman gencatan senjata sementara AS-Iran pada 8 April, Bilmes mengidentifikasi sejumlah faktor yang berpotensi memberi dampak serius terhadap utang nasional AS dalam jangka panjang.
Ia memperkirakan biaya awal konflik mencapai sekitar US$2 miliar per hari selama 40 hari pertama, mencakup kebutuhan amunisi, pengerahan pasukan, hingga kerusakan aset militer, termasuk jatuhnya tiga jet tempur F-15 akibat insiden salah tembak dari Kuwait.
Namun, menurutnya, biaya riil jauh lebih tinggi karena Pentagon masih menggunakan harga lama, bukan biaya penggantian terkini yang lebih mahal.
"Kesenjangan ini adalah salah satu alasan mengapa angka yang dilaporkan sebesar $11,3 miliar (sekitar Rp194 triliun) lebih mendekati US$16 miliar (sekitar Rp274 triliun)," kata Bilmes.
Ilustrasi - Presiden AS Donald Trump (depan) menghadiri konferensi pers setelah KTT NATO di Den Haag, Belanda, pada 25 Juni 2025. ANTARA/HO- Xinhua/Zhao Dingzhe/pri. (Antara)
"Hal ini mencerminkan kesenjangan yang terus-menerus antara apa yang dilaporkan Pentagon secara real time dan biaya perang yang sebenarnya," tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa kontrak besar dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing membuat biaya penggantian peralatan militer semakin mahal.
Sebagai gambaran, satu unit pesawat pencegat dapat mencapai harga sekitar US$4 juta, jauh lebih mahal dibandingkan drone Iran yang hanya sekitar US$30.000.
Di sisi lain, Gedung Putih mengajukan anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun kepada Kongres, yang berpotensi menjadi peningkatan terbesar sejak Perang Dunia II. Angka ini belum termasuk tambahan sekitar US$200 miliar yang diajukan Pentagon untuk kebutuhan perang di Iran.
"Bahkan jika Kongres tidak menyetujui peningkatan penuh, sangat mungkin setidaknya US$100 miliar (sekitar Rp1,714 triliun) per tahun akan ditambahkan ke anggaran pertahanan dasar yang tidak akan disetujui jika tidak ada perang ini," ujar Bilmes.
Bilmes memperingatkan bahwa lonjakan anggaran ini akan semakin membebani defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, perang Irak yang menelan biaya sekitar US$2 triliun terjadi saat utang AS masih di bawah US$4 triliun.
Saat ini, utang Amerika Serikat telah melampaui US$31 triliun, yang sebagian besar merupakan dampak dari konflik sebelumnya di Irak dan Afghanistan.
"Kita meminjam untuk membiayai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi dan basis utang yang jauh lebih besar," ujarnya.
"Akibatnya, biaya bunga saja akan bertambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Dan tidak seperti biaya di muka, ini adalah biaya yang kita bebankan kepada generasi berikutnya."
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)