Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan Nuklir dengan Iran Buntu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Apr 2026, 10:14
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Donald Trump mengumumkan rencana drastis dengan memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz, menyusul kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui unggahan media sosial pada Minggu (12/4/2026), tak lama setelah negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, khususnya terkait isu nuklir.

Dalam pernyataannya, Trump menuduh Iran melakukan praktik “pemerasan” di jalur pelayaran strategis tersebut. Ia menegaskan bahwa Angkatan Laut AS tidak hanya akan memblokade akses keluar-masuk Selat Hormuz, tetapi juga akan memburu kapal-kapal di perairan internasional yang disebut telah membayar biaya kepada Iran untuk melintas. Selain itu, ia menyebut pasukan AS akan mulai melakukan operasi pembersihan ranjau yang diklaim telah dipasang oleh Iran di wilayah tersebut.

“Jadi, begitulah, pertemuan berjalan lancar, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, NUKLIR, tidak disepakati,” kata Trump sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Baca Juga: Harga Emas Antam Awal Pekan Merosot ke Rp2,81 Juta per Gram

“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses PEMBLOKIRAN semua kapal yang mencoba masuk atau keluar Selat Hormuz.”

Langkah ini diambil di tengah situasi yang semakin memanas, setelah Iran secara de facto menguasai Selat Hormuz sejak konflik dengan AS dan Israel meletus pada 28 Februari. Jalur ini merupakan salah satu titik paling vital dalam distribusi energi global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak luas terhadap pasar minyak dan gas dunia.

Pihak Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya telah memberikan peringatan bahwa kapal sipil masih dapat melintas selama mematuhi “peraturan khusus”. Namun, kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata dan “akan ditindak tegas”.

Ketegangan di selat sempit itu telah menyebabkan perlambatan lalu lintas maritim secara signifikan. Dampaknya, hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia terganggu, memicu guncangan di pasar energi global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Pernyataan Trump juga memicu kekhawatiran baru terkait keberlangsungan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu dan dinilai masih rapuh. Sejumlah pihak internasional pun mendesak agar jalur diplomasi tetap diutamakan.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Laut Merah Jika Amerika Blokade Kapal Tankernya di Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyerukan agar kedua pihak memperpanjang gencatan senjata dan melanjutkan perundingan. “Saya mendesak agar gencatan senjata diperpanjang dan pembicaraan dilanjutkan,” katanya. “Keberhasilan mungkin mengharuskan semua pihak membuat konsesi yang menyakitkan, tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan kegagalan dan perang.”

Di sisi lain, Iran membantah klaim Amerika Serikat terkait aktivitas kapal perang AS yang disebut melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Teheran memperingatkan bahwa setiap upaya militer semacam itu akan mendapat “tanggapan keras”.

Trump kembali menegaskan sikap kerasnya dengan menyebut kontrol Iran atas selat tersebut sebagai “pemerasan dunia”. Ia juga mengancam bahwa setiap tindakan agresif terhadap pasukan AS atau kapal yang dianggap “damai” akan dibalas dengan kekuatan penuh. Dalam unggahan lainnya, ia menyatakan bahwa kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran akan dicegat di perairan internasional.

"Kita tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dengan menjual minyak kepada orang-orang yang mereka sukai," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News. "Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali, dan begitulah adanya."

Trump juga mengklaim bahwa operasi blokade ini akan melibatkan sejumlah negara lain, termasuk Inggris, yang disebut mengirimkan kapal penyapu ranjau. Namun, klaim tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah Inggris.

Sementara itu, Iran tetap melanjutkan aktivitas pelayaran mereka di Selat Hormuz sejak konflik dimulai, bahkan masih mengizinkan beberapa kapal asing untuk melintas. Pejabat Iran juga disebut tengah mempertimbangkan penerapan sistem pungutan bagi kapal yang melintasi selat tersebut setelah konflik berakhir, sebagai bentuk kontrol ekonomi atas jalur strategis itu.

x|close