Ini Penyebab Perundingan Damai AS–Iran di Pakistan Gagal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Apr 2026, 04:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Islamabad - Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar akhir pekan ini di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Kegagalan tersebut dipicu oleh dua isu utama yang belum menemukan titik temu, yakni program nuklir Iran dan status Selat Hormuz.

Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah menetapkan sejumlah syarat utama agar negosiasi dapat dianggap berhasil. Namun, setelah pembicaraan berlangsung selama berjam-jam hingga dini hari, kedua pihak dilaporkan mengalami kebuntuan pada sejumlah isu krusial, menurut sumber CNN yang mengikuti jalannya perundingan.

Bagi Washington, penolakan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz serta menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya menjadi hambatan utama yang tidak dapat ditawar.

Di sisi lain, Iran juga tetap bersikukuh pada tuntutannya. Selama dua isu tersebut belum terselesaikan, permintaan Teheran agar Amerika Serikat mencabut sanksi serta mencairkan aset mereka yang dibekukan senilai miliaran dolar juga tidak mengalami kemajuan.

Baca Juga: Perundingan Damai Iran-AS Gagal, Wapres Vance: Berita Buruk

Situasi tersebut membuat kedua negara akhirnya menyatakan perundingan tidak mencapai hasil.

Sejumlah pejabat menilai perbedaan pendekatan dalam negosiasi turut memperburuk kondisi. Iran dikenal bersedia menjalani proses perundingan yang panjang dan kompleks demi mencapai kesepakatan, sebagaimana terjadi pada perjanjian nuklir di era Barack Obama yang memakan waktu hingga dua tahun.

Sebaliknya, Presiden Donald Trump dinilai lebih menginginkan hasil cepat dan tidak condong pada proses negosiasi yang berlarut-larut.

Sebelumnya, Trump sempat menyatakan bahwa kedua negara akan bekerja sama mengatasi persoalan yang ia sebut sebagai “debu nuklir”, namun pernyataan tersebut tampaknya tidak memengaruhi sikap Iran.

Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py <b>(Antara)</b> Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Selain isu nuklir, Selat Hormuz juga menjadi faktor krusial dalam perundingan. Meski sebelumnya Iran menyatakan akan tetap membuka jalur tersebut, mereka kemudian mulai membatasi lalu lintas kapal tanker.

Langkah pembatasan itu dilakukan setelah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Dampaknya, kondisi ini memicu gejolak di pasar energi global sekaligus menambah tekanan politik bagi pemerintahan Trump di dalam negeri.

Para negosiator Iran, yang memahami posisi strategis Selat Hormuz, memilih untuk tidak memenuhi tuntutan pembukaan jalur tersebut sebelum tercapai kesepakatan menyeluruh, menurut keterangan sejumlah pejabat.

x|close