Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata Jika Serangan Israel ke Lebanon Berlanjut

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 07:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Iran mengisyaratkan kemungkinan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata apabila Lebanon masih menjadi sasaran serangan.

Seorang sumber dari Iran menyampaikan kepada Tasnim News Agency bahwa Iran akan membatalkan perjanjian dengan Amerika Serikat jika Israel tetap melanjutkan serangan terhadap Lebanon, yang merupakan sekutunya.

"Iran akan keluar dari perjanjian jika rezim Israel terus melanggar gencatan senjata dengan menyerang Lebanon," kata sumber tersebut, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat, 10 April 2026.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa Teheran saat ini tengah mengevaluasi tindakan Israel di Lebanon yang dianggap sebagai "pelanggaran yang terus berlanjut".

Menurut pihak Iran, serangan terhadap Lebanon dinilai tidak sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui bersama Amerika Serikat. Perjanjian tersebut mencakup penghentian serangan terhadap kelompok Poros Perlawanan yang menjadi sekutu Teheran di kawasan.

Baca Juga: Inggris Desak Perluasan Gencatan Senjata AS-Iran ke Lebanon

Sebelumnya, AS dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada Rabu, 8 April 2026. Kesepakatan ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Selasa, 7 April 2026.

Gencatan senjata tersebut direncanakan akan dilanjutkan dengan perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada 10 April.

Namun demikian, sejak kesepakatan itu diumumkan, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan ke Lebanon. Pada Rabu, serangan tersebut mengakibatkan sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya mengalami luka-luka.

Pihak militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan salah satu serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulainya kampanye militer mereka di Lebanon pada 2 Maret lalu.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

x|close